Cinta di Rumah akan Kokoh dengan Ilmu ini

287

(Keys to Sustainable Love)
Oleh: Ahyani Billah

Beberapa waktu belakangan, kami sedang jatuh cinta dengan istilah sustainability (keberlanjutan). Karena sesuatu yang sustainable akan mampu bertahan walau dalam kondisi sulit sekalipun. Dan betapa indah, ketika itu pula yang terjadi dalam sebuah rumah tangga. Apalagi rumah tangga yang ditinggali oleh para pelopor kebaikan. Yang memiliki slogan ‘sehidup sesurga’. Yang bercita-cita falah. Yang fillah, lillah, billah..

Akan tetapi, jauh panggang dari api. Ketahanan keluarga kembali diuji dalam setahun belakangan ini.
Betapa sedih dan terguncang jiwa ini menyimak kepadaman rumah tangga pada teman, keluarga, dan orang-orang di sekitar. Permasalahan ekonomi menjadi alasan embek hitam. Apakah sesederhana uang dan materi? Itu yang kami tidak begitu paham. Ada isu yang lebih dalam di setiap kehidupan berkeluarga.

Tidak hanya itu, hubungan yang renggang dengan orang tua juga merupakan bagian dari permasalahan ini. Belum lagi kondisi galau ketahanan anak yang beragam. Permasalahan berupa kesulitan belajar, aneka macam dan ragam kecanduan, dan sebagainya.

Kami melihat bahwa guncangan dalam ketahanan keluarga dan ketahanan anak sedikit banyak sangat dipengaruhi oleh komunikasi yang dibangun di dalam keluarga itu sendiri. Dan komunikasi yang baik akan menjaga cinta (LOVE). Walaupun Ust. Bendri bilang bahwa pernikahan tidak membutuhkan cinta, tetapi komitmen. Well, untuk yang ini kita bisa bahas di lain kesempatan.

Baca juga  Saat Balita Kecanduan Gadget

Tentang L, O, V, dan E
Padahal LOVE itu adalah Listening, Offering, Validating, dan Empathizing yang semuanya merupakan konsep ilmu komunikasi. Tidak hanya untuk diaplikasikan dalam keluarga, tapi juga dalam kehidupan kita bermasyarakat.

Listening yaitu tentang banyak memasang telinga daripada mengumbar ucapan. Offering adalah ketika berbicara dengan meminta pendapat, bukan sekadar memerintah. Validating atau dalam kepanjangan lainnya adalah Value berarti menghargai setiap individu. Sedangkan Empathizing berarti kita menempatkan diri kita pada posisi orang lain, merncoba merasakan apa yang ia rasakan. LOVE versi ini memberikan kesempatan kepada kita untuk tawadhu’ dan lebih menghargai orang-orang di sekitar kita. Apalah lagi jika ini teruntuk orangtua, pasangan hidup (suami/ istri), serta anak-anak (biologis maupun ideologis) kita.

Love Languages
Bersama L, O, V, E ada lagi Love Languages (1992). Teori 5 Bahasa Cinta Gary Chapman yang satu ini masih relevan sebagai obat komunikasi yang error menuju sustainable love dalam keluarga. Karena sebenarnya, kendala yang ada pada setiap individu adalah kemampuan untuk mengungkapkan cinta. Tidak seperti di Negara Barat, Negara Timur seperti subkontinen, Asia Timur, dan bahkan Asia Tenggara tidak terbiasa mengungkapkan kata ‘I Love You’ baik kepada pasangan atau anak. Coba tanyakan pada diri sendiri, bagaimana kita dibesarkan, dan bagaimana kita membesarkan anak-anak kita?

Baca juga  Kaidah Bahagia: Stabilitas dan Dinamika

Nah, love languagesnya Pak Gary Chapman ini bisa kita aplikasikan. Yang pertama adalah words of affirmation, yaitu ketika kita melakukan afirmasi dan penekanan terhadap keutamaan-keutamaan pasangan, orangtua, atau anak-anak kita. Karena setiap orang sebenarnya ingin diakui, ingin dipuji, dan ingin dihargai. Tidak hanya dengan tindakan, afirmasi ini harus terucap dan dilakukan berulang-ulang.

Setelah itu, luangkanlah quality time untuk orang-orang yang kita kasihi. Sepenuh hati, sepenuh perasaan. Tanpa ditemani gawai, tanpa diganggu pikiran yang tidak pada tempatnya. Jadilah pendengar untuk setiap ucapnya, temani belajarnya, jadilah bagian dari dunianya. Terbersit bagaimana RasuluLlah juga meluangkan waktu untuk bercanda dan bermain dengan istri-istri, anak, serta cucu-cucu beliau, menadi pendengar yang baik atas keluh kesah para sahabat, serta menjadi problem solver.

Physical touch adalah bahasa cinta yang ketiga. Pernikahan renggang atau hubungan ortu-anak yang nggak harmonis juga gegara terlalu banyak ocehan perintah dan protes yang keluar dari lisan, sedangkan suami atau istri serta anak jarang disentuh. Sentuhan fisik berupa belaian di tangan, tepukan di pundak, pelukan dua puluh detik, ternyata dapat memberikan dampak yang signifikan. Cobalah lihat pula bagaimana RasuluLlah SAW senang menepuk kepala anak-anak yang bermain di pelataran Masjid Nabawi.

Baca juga  Masa Bersama Anak

Luangkan pula untuk memberikan bantuan (acts of service) walaupun sesederhana membawakan barang atau mengambilkan foto. Pas banget dengan konsep nafiún lighoirih, khoirinnaas anfaúhum linnaas, serta shodaqoh seringan menghilangkan gangguan di jalan. Karena pada dasarnya setiap orang tersanjung ketika ada orang lain yang memberikan perhatian dengan hal-hal seremeh remahan rengginang.

Bahasa cinta yang terakhir yang ditawarkan adalah receiving gifts. Oh, wow.. Bahkan RasuluLlah SAW yang hidup di masa belum ada mesin itu sudah menyampaikan, tahaaduu tahaaabbuu.. Saling memberi hadiahlah, niscaya kalian akan saling mencintai. Luar biasa.. teori komunikasi zaman now yang sudah diseratkan di zaman old.

Jadi, bisa lah ya kita membumikan semua teori cinta yang abstrak itu ke dalam rumah kita. Semoga keluarga kita menjadi keluarga yang ketahanannya teruji sampai jannahNya. Sustainable LOVE til Jannah.

AhB-Bdg200321

Sumber bacaan:

  • https://www.verywellmind.com/can-the-five-love-languages-help-your-relationship-4783538
  • https://the20minuteguide.com/parents/helping-with-words/listening/

Comments

comments