Beranda Artikel Brilian Olah Raga Belajar dari Cristiano Ronaldo dan Erling Haaland.

Belajar dari Cristiano Ronaldo dan Erling Haaland.

Studi Kasus Father Effects Ronaldo vs Haaland

Oleh: Qorry Amanda. 

Tulisan ini buat kamu yang sudah menjadi ayah. Atau mungkin suatu hari nanti ingin menjadi ayah.

Yuk, gelar tikernya.

Kita belajar bareng tentang father effect dari dua pesepak bola terbaik di dua generasi.

Milenial punya Cristiano Ronaldo.
Gen Z punya Erling Haaland.

Keduanya sama-sama luar biasa. Sama-sama disiplin. Sama-sama menjadi pemain terbaik di generasinya.

Tapi pernah nggak kita berhenti sebentar lalu bertanya, kenapa dua pemain dengan mental yang sama kuat justru datang dari keluarga yang sangat berbeda?

Menurut saya, pertanyaan ini menarik.

Soalnya kalau dipikir-pikir, seorang anak itu tidak cuma dibentuk oleh genetik. Lingkungan tempat ia tumbuh juga ikut menentukan akan jadi seperti apa ia nanti. Dan untuk menjelaskan itu, saya justru lebih nyaman meminjam bahasa histologi daripada teori psikologi sosial yang memang bukan bidang saya.

Di histologi ada konsep yang menurut saya bagus sekali untuk menjelaskan ini.

Stem cell ternyata tidak otomatis menjadi jenis sel tertentu hanya karena genetiknya. Ia juga “mendengarkan” lingkungan di sekitarnya. Ada sinyal dari sel tetangga, ada growth factor, ada extracellular matrix atau ECM yang terus mengirim sinyal mekanis dan kimiawi.

Semua itu bersama-sama membentuk keputusan sel untuk bertahan, berkembang, atau berdiferensiasi.

Dua stem cell yang genetiknya sama bisa berakhir menjadi sel yang sangat berbeda hanya karena niche tempat mereka tumbuh berbeda.

Bukankah seorang anak juga begitu?

Ia lahir membawa potensi. Tapi ke mana potensi itu berkembang, sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang ia lihat setiap hari.

Dan di lingkungan itu, ayah adalah salah satu arsitek utamanya.

Bukan semata lewat nasihat. Justru lebih sering lewat hal-hal yang kelihatannya biasa saja. Cara bekerja. Cara memperlakukan pasangan.

Cara menyikapi kegagalan. Cara berbicara kepada orang lain. Semua itu pelan-pelan menjadi “sinyal” yang dibaca anak setiap hari.

Kalau begitu, coba kita balik bertanya ke diri sendiri.

Hari ini, sinyal seperti apa yang sedang kita kirim kepada anak-anak kita?

Sekarang coba lihat Cristiano Ronaldo.

Ia tumbuh dalam keluarga yang serba terbatas. Ayahnya, José Dinis Aveiro, bekerja sebagai kit man di klub lokal sekaligus tukang kebun.

Ia juga bergumul dengan alkoholisme sehingga gagal membina hubungan yang baik dengan anaknya

Ia meninggal ketika Ronaldo baru memulai kariernya di Manchester United.

Kalau berhenti di sini, kita mungkin akan menyimpulkan bahwa kerasnya hidup itulah yang membentuk Ronaldo.

Tapi menurut saya, ceritanya tidak sesederhana itu.

Di balik kisah José Dinis, ada sosok ibunya, Maria Dolores dos Santos Aveiro.

Dolores juga bekerja keras untuk menghidupi keluarganya.

Bahkan ketika mengandung Ronaldo, ia pernah mengaku sempat mempertimbangkan untuk menggugurkan kandungannya karena merasa kondisi ekonomi keluarga sudah terlalu berat.

Pergolakan itu kemudian ia ceritakan dalam bukunya, Mother Courage. Namun akhirnya ia memilih mempertahankan kehamilan tersebut.

Sejak Ronaldo kecil, Dolores juga menjadi tempat ia pulang secara emosional.

Ronaldo dikenal mudah menangis ketika kalah bertanding, dan ibunyalah yang berulang kali menenangkan sekaligus menguatkannya. Ketika bakat Ronaldo mulai terlihat, kedua orang tuanya tetap berusaha memenuhi biaya latihan, sepatu, dan transportasi, meski bagi keluarga mereka semua itu bukan pengeluaran yang kecil.

Lalu, kenapa Ronaldo bisa bertumbuh dari lingkungan seperti itu?

Menurut saya, jawabannya bukan karena tekanan itu sendiri.

Tekanan tidak pernah bekerja sendirian.

Kalau saya pinjam bahasa histologi lagi, hipertrofi kompensatorik bukan terjadi hanya karena ada beban.

Beban hanyalah stimulus. Yang menghasilkan pertumbuhan adalah kemampuan jaringan untuk beradaptasi terhadap stimulus tersebut.

Mungkin manusia juga begitu.

Kesulitan tidak otomatis membuat seseorang menjadi tangguh. Banyak orang justru patah karenanya.

Yang membuat seseorang bisa bertumbuh sering kali adalah karena di tengah tekanan itu masih ada harapan.

Masih ada orang yang percaya kepadanya. Masih ada lingkungan yang membuatnya merasa hidup ini tetap layak diperjuangkan.

Nah, di sinilah analogi stem cell niche menurut saya jadi semakin menarik.

Lingkungan yang membentuk sel tidak pernah hanya terdiri dari satu jenis sinyal. Ada sinyal yang memberi tantangan. Ada yang menopang. Ada yang menjaga sel tetap hidup. Ada juga yang mengarahkan ke mana ia akan berkembang.

Mungkin dari ayahnya, Ronaldo belajar bahwa hidup memang keras.

Tapi dari ibunya, ia belajar bahwa hidup yang keras tetap layak diperjuangkan.

Lalu bagaimana dengan Erling Haaland?

Ceritanya hampir berkebalikan.

Ayahnya, Alfie Haaland, adalah mantan pesepak bola profesional. Ia paham bagaimana rasanya menghadapi tekanan, cedera, ekspektasi publik, dan kerasnya industri sepak bola.

Yang menarik, ia justru tidak terburu-buru mendorong anaknya fokus pada sepak bola.

Erling kecil malah dibiarkan mencoba berbagai olahraga, mulai dari ski lintas alam, atletik, sampai bola tangan. Baru ketika remaja ia benar-benar fokus pada sepak bola.

Sekilas ini terdengar seperti intuisi seorang ayah.

Ternyata, sport science justru menunjukkan arah yang sama.

Model Developmental Model of Sport Participation dari Jean Côté menunjukkan bahwa banyak atlet elite mendapat manfaat dari masa kecil yang diisi berbagai jenis olahraga sebelum akhirnya melakukan spesialisasi.

Penelitian Arne Güllich bahkan menemukan bahwa atlet kelas dunia umumnya memiliki pengalaman olahraga yang lebih beragam dibanding mereka yang terlalu cepat fokus pada satu cabang.

Menarik, ya?

Kadang kita berpikir semakin cepat anak difokuskan, semakin cepat pula ia akan berhasil.

Padahal belum tentu.

Kalau pertumbuhan Ronaldo mengingatkan kita pada hipertrofi kompensatorik, pertumbuhan Haaland lebih mirip diferensiasi dalam niche yang stabil.

Ia berkembang sesuai waktunya, tanpa dipaksa matang lebih cepat oleh lingkungannya.

Lalu siapa ayah yang lebih baik?

Menurut saya, mungkin memang itu pertanyaan yang keliru.

José Dinis dan Alfie Haaland hidup dalam kondisi yang sama sekali berbeda.

Yang satu tidak memberi bahkan dari keterbatasan.

Yang satu lagi memberi dari pengalaman yang ia miliki.

Tetapi keduanya melakukan satu hal yang sama.

Mereka meninggalkan lingkungan.

Dan mungkin, justru itulah pekerjaan terbesar seorang ayah.

Karena pada akhirnya, anak tidak hanya mewarisi gen dari orang tuanya.

Mereka juga mewarisi lingkungan yang kita bangun setiap hari. Mereka menyerap cara kita bekerja, cara kita memperlakukan orang lain, cara kita mengambil keputusan, bahkan cara kita menghadapi kegagalan. Sering kali bukan karena kita mengajarkannya, tetapi karena mereka melihatnya berulang-ulang.

Jadi mungkin kita perlu mengganti pertanyaannya.

Bukan lagi, “Apa yang bisa saya wariskan kepada anak saya?”

Melainkan, “Hari ini, lingkungan seperti apa yang sedang saya bangun untuknya?”

Karena pada akhirnya, seorang anak tidak hanya mewarisi apa yang dimiliki ayahnya.

Ia juga mewarisi apa yang ayahnya lakukan dengan apa yang ia miliki.

Jadi, wahai pria.
Ada alasan kenapa anakmu dinisbatkan dengan namamu:
Ia membawa efekmu kemanapun dia pergi.