Beranda Diskusi Brilian Kajian Islam Dimensi Akhirat dan Virtual Reality

Dimensi Akhirat dan Virtual Reality

Oleh: Qorry Amanda.

Diingatkan soal akhirat oleh ustaz itu sudah hal yang biasa. Namun, pernahkah terpikir bagaimana rasanya jika yang mengingatkan justru mantan petinggi Google X?

Bagi yang belum tahu, Google X adalah divisi rahasia Google yang bertugas merancang berbagai teknologi masa depan yang terkesan “gila”. Mari kita bedah isi kepala salah satu orang yang pernah berada di sana.

Namanya Mo Gawdat. Titik balik hidupnya cukup tragis. Anak laki-lakinya, Ali, meninggal mendadak akibat komplikasi dari prosedur appendectomy (operasi usus buntu) yang sebenarnya tergolong sederhana.

Banyak temannya menyarankan untuk menuntut dokter bedah yang menangani putranya. Namun yang menarik, sebagai seorang tokoh teknologi kelas dunia, Mo tidak merespons kematian Ali dengan sekadar dogma agama atau kepasrahan tanpa berpikir.

Sebaliknya, ia justru semakin yakin terhadap konsep akhirat dan masa depan manusia melalui pendekatan logika, fisika, dan matematika.

Menurut Mo, alam semesta dan dunia fisik yang kita tinggali saat ini sangat mirip dengan sebuah sistem Virtual Reality (VR).

Dalam berbagai podcast, Mo Gawdat sering mendapat pertanyaan, “Apakah kamu benar-benar percaya bahwa kita hidup dalam sebuah simulasi?”

Jawabannya selalu konsisten: “Ya, seratus persen.”

Menariknya, ia tidak berbicara seperti orang yang terlalu religius maupun terlalu konspiratif. Ia menjelaskan pandangannya melalui sudut pandang seorang insinyur.

Baginya, realitas ini beroperasi dengan cara yang terlalu mencurigakan untuk diabaikan.

Berikut beberapa “bukti” logis yang sering ia gunakan untuk menjelaskan mengapa dunia ini mungkin hanyalah sebuah simulasi tingkat tinggi.

1. Ilusi Benda Padat: Realitas Itu Hampir Kosong

Coba ketuk meja di depan Anda. Terasa keras dan padat, bukan?

Padahal fisika modern telah menunjukkan bahwa sekitar 99,99 persen massa benda sebenarnya terdiri dari ruang kosong.

Lalu mengapa terasa padat?

Karena adanya gaya tolak-menolak antar elektron.

Fakta menariknya, sepanjang hidup kita sebenarnya tidak pernah benar-benar menyentuh materi secara langsung. Sensasi sentuhan yang kita rasakan hanyalah hasil interaksi gaya elektromagnetik yang diterjemahkan menjadi sinyal listrik, lalu diproses oleh otak.

Singkatnya, dunia fisik tidak sepadat yang kita bayangkan. Sebagian besar pengalaman kita tentang “kepadatan” adalah hasil interpretasi sistem saraf terhadap interaksi molekuler.

2. Otak Kita Mirip Mesin Konsol Game

Ini adalah salah satu poin yang paling membuat Mo penasaran.

Ia sering menggunakan analogi permainan Halo, salah satu game favoritnya.

Segala sesuatu yang kita lihat, dengar, cium, dan rasakan pada akhirnya hanyalah terjemahan sinyal listrik di dalam otak.

Di luar sana, alam semesta tidak memiliki warna, suara, atau pengalaman seperti yang kita rasakan.

Foton cahaya memasuki retina, lalu diubah menjadi sinyal listrik. Gelombang suara mengenai gendang telinga dan juga diubah menjadi sinyal listrik.

Setelah itu, otak “merender” semua informasi tersebut menjadi pengalaman visual dan audio yang kita kenal.

Apa bedanya dengan cara kerja konsol PlayStation yang mengubah deretan kode digital menjadi dunia tiga dimensi di layar atau kacamata VR?

Dari sudut pandang rekayasa sistem, otak manusia tampak seperti sebuah penerima dan pengolah sinyal yang sangat canggih.

3. Keanehan Fisika Kuantum: The Observer Effect

Jika berbicara tentang bukti yang paling sering ia angkat, inilah salah satunya.

Dalam fisika kuantum, terdapat fenomena yang sering disebut observer effect. Pada kondisi tertentu, partikel tidak memiliki posisi yang pasti sampai dilakukan pengukuran.

Sebelum diamati, sistem kuantum digambarkan sebagai kumpulan kemungkinan (probabilitas). Setelah diukur, hasil tertentu muncul.

Mo kemudian mengajukan pertanyaan filosofis:

Jika alam semesta berusia sekitar 13,7 miliar tahun, sedangkan manusia baru muncul jauh belakangan, siapa yang “mengamati” realitas sebelum manusia ada?

Menurutnya, logika tersebut mengarah pada kemungkinan adanya kesadaran fundamental yang telah ada sebelum manusia dan alam semesta sebagaimana kita kenal saat ini.

Kesadaran tersebut berada di luar sistem dan menjadi pengamat utama dari seluruh realitas.

4. Bukti dari Dimensi Waktu

Kita semua mengalami waktu bergerak ke depan: kemarin, hari ini, dan besok.

Mo berpendapat bahwa untuk dapat mengamati sesuatu secara utuh, kita harus berada di luar sistem yang diamati.

Kita tidak bisa melihat keseluruhan bentuk bangunan jika hanya berdiri di dalam salah satu ruangannya.

Karena kita dapat menyadari dan mengamati berjalannya waktu, ia berargumen bahwa hakikat diri kita mungkin berada di luar ruang dan waktu fisik.

Ia mengibaratkannya seperti seorang gamer yang sedang memainkan sebuah game.

Karakter dalam game mengalami siang, malam, dan perjalanan waktu. Namun sang pemain yang duduk di depan layar tidak terikat oleh waktu di dalam game tersebut.

Jika dunia fisik hanyalah antarmuka simulasi, dan tubuh hanyalah perangkat yang digunakan untuk berpartisipasi di dalamnya, maka mungkin kita selama ini terlalu serius memandang berbagai persoalan duniawi yang sifatnya sementara.

Karena itu, kesimpulan Mo Gawdat selalu terdengar menenangkan.

Menurutnya, jalani saja “level” kehidupan ini sebaik mungkin. Tidak perlu terlalu terobsesi pada hasil akhir, karena permainan ini memang dirancang penuh tantangan untuk mengembangkan diri.

Ketika permainan selesai—atau ketika kita meninggal—mungkin yang terjadi hanyalah kita melepas kacamata VR, keluar dari simulasi, dan terbangun di realitas yang jauh lebih nyata daripada dunia yang kita kenal sekarang.

“Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?” (QS. Al-An’am: 32)