Beranda Artikel Brilian Kontroversi Kinsey, Hadis Nabi, dan Pertanyaan: Mungkinkah Lesbi Terjadi karena Gay Muncul Lebih...

Kinsey, Hadis Nabi, dan Pertanyaan: Mungkinkah Lesbi Terjadi karena Gay Muncul Lebih Dulu?

Oleh: Qorry Amanda.

Di kelas histologi kami belajar bahwa bentuk sel selalu mengikuti fungsinya. Sel yang sering bergesekan dibuat pipih dan berlapis. Sel yang bertugas menghasilkan zat dibuat berbentuk kuboid. Sel yang menyerap nutrisi diberi mikrovili agar luas permukaannya lebih besar.

Sederhananya, desain selalu mengikuti fungsi. Lalu saya bertanya sebagai seorang Muslim.

Kalau Allah menciptakan manusia dengan fitrah tertentu, mengapa ada sebagian orang yang mengalami pergeseran orientasi? Apa yang sebenarnya membuat pergeseran itu terjadi?

Di sinilah saya menemukan sesuatu yang menarik.

Pada tahun 1948, Alfred Kinsey memperkenalkan skala orientasi seksual dari 0 sampai 6. Angka 0 berarti heteroseksual sepenuhnya, sedangkan angka 6 berarti homoseksual sepenuhnya. Di antara keduanya terdapat berbagai gradasi.

Yang menarik bukan angka-angkanya, melainkan idenya.

Menurut Kinsey, pada sebagian orang orientasi seksual tidak selalu bersifat kaku. Orientasi itu dapat dipengaruhi oleh pengalaman hidup, lingkungan, dan hubungan yang dijalani. Gagasan ini terutama banyak dibahas pada perempuan.

Sekarang bandingkan dengan sebuah hadis.

Janganlah seorang laki-laki berbaring dengan laki-laki lain dalam satu selimut. Dan janganlah seorang perempuan berbaring dengan perempuan lain dalam satu selimut.” (HR. Muslim dan Abu Dawud).

Sekilas hadis ini tampak sederhana.

Namun, setelah membaca literatur psikologi modern, saya melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.

Hadis ini tidak ditujukan kepada orang yang sudah mengidentifikasi dirinya sebagai homoseksual. Yang diatur justru situasinya. Nabi membuat pagar sebelum seseorang sampai ke titik itu.

Artinya, Islam tidak hanya mengatur perilaku yang sudah terjadi, tetapi juga menjaga kondisi yang berpotensi mengarah ke sana.

Bukan berarti Nabi sedang menjelaskan teori Kinsey.

Namun menarik bahwa wahyu memberikan batasan pada kondisi yang, menurut sebagian penelitian modern, memang dapat memengaruhi perkembangan ketertarikan seseorang dalam konteks tertentu.

Lalu muncul pertanyaan lain.

Mengapa Al-Qur’an secara eksplisit menyebut homoseksualitas atau liwath pada kaum Luth, sementara lesbian atau sihaq tidak disebut secara langsung?

Dalam Surah Al-A’raf ayat 80–81, yang disebut adalah laki-laki yang mendatangi sesama laki-laki.

Adapun hubungan seksual sesama perempuan dijelaskan dalam hadis dan dibahas oleh para ulama fikih, tetapi tidak disebut secara eksplisit dalam ayat.

Kalau kita membaca tafsir klasik, kaum Luth tidak langsung menjadi seperti itu.

Mereka hidup dalam masyarakat yang penuh kemewahan, permainan, kemaksiatan, dan berbagai bentuk penyimpangan. Penyimpangan seksual muncul sebagai bagian dari kerusakan sosial yang berkembang sedikit demi sedikit, bukan muncul dalam semalam.

Artinya, Al-Qur’an tidak hanya mengkritik perilakunya, tetapi juga ekosistem yang melahirkannya.

Di sisi lain, penelitian psikologi modern memberikan temuan yang menarik.

Psikolog seperti Lisa Diamond menemukan bahwa pada sebagian perempuan, ketertarikan seksual lebih dipengaruhi oleh kedekatan emosional daripada sekadar rangsangan fisik. Ia menyebut fenomena ini sebagai sexual fluidity.

Peneliti lain, Roy Baumeister, menggunakan istilah erotic plasticity untuk menjelaskan bahwa seksualitas perempuan, secara rata-rata, lebih responsif terhadap konteks sosial dan relasional dibandingkan laki-laki.

Tentu, ini bukan berarti semua perempuan demikian. Namun pola tersebut cukup konsisten ditemukan dalam berbagai penelitian.

Bayangkan seorang perempuan yang bertahun-tahun tidak menemukan rasa aman, perlindungan, atau tempat bersandar secara emosional.

Yang ia cari pada awalnya bukanlah hubungan seksual. Yang ia cari adalah rasa dipahami, diterima, dan dicintai.

Namun, ketika kedekatan emosional itu terus tumbuh dalam hubungan dengan sesama perempuan, pada sebagian orang batas antara kelekatan emosional dan ketertarikan romantis dapat menjadi semakin kabur.

Kalau memang demikian, maka pergeseran itu mungkin tidak selalu dimulai dari syahwat.

Ia bisa berawal dari kebutuhan relasional yang tidak terpenuhi.

Di sinilah konsep Islam tentang qawwam menjadi menarik.

Al-Qur’an menyebut laki-laki sebagai qawwam, yaitu pihak yang memikul tanggung jawab memimpin, melindungi, dan menjaga keluarganya.

Kalau fungsi ini hilang, bukan hanya secara ekonomi, tetapi juga secara emosional dan moral, apakah struktur relasi di sekitarnya ikut terganggu?

Pertanyaan ini tentu belum bisa dijawab dengan pasti. Namun, menurut saya, ia layak diteliti.

Karena itu saya bertanya.

Mungkinkah Al-Qur’an lebih dahulu menyoroti akar kerusakan sosialnya?

Mungkinkah liwath disebut secara eksplisit karena ia menjadi salah satu simbol rusaknya struktur masyarakat, sedangkan bentuk penyimpangan lain berkembang sebagai konsekuensi dari kerusakan ekosistem yang sama?

Ini bukan kesimpulan, melainkan hipotesis yang menurut saya menarik untuk diuji.

Kalau benar demikian, maka pelajaran yang bisa diambil cukup dalam.

Islam tidak hanya berbicara tentang dosa yang tampak di hilir.

Islam juga berusaha menjaga sebab-sebab yang muncul di hulu.

Karena sering kali, ketika sebuah penyimpangan sudah terlihat, kerusakan yang lebih besar sebenarnya telah berlangsung jauh sebelumnya.

Jadi, sihaq atau lesbian bukan berarti tidak berdosa. Tetap berdosa. Namun, mungkin ia tidak disebut secara eksplisit dalam Al-Qur’an bukan karena dianggap lebih ringan, melainkan karena Al-Qur’an telah lebih dahulu berbicara tentang kondisi yang melahirkannya.

Liwath merusak struktur, laki-laki gagal menjalankan perannya sebagai qawwam, dan ekosistem relasional kehilangan pondasinya.

Al-Qur’an menyebut liwath dengan tegas dan eksplisit karena ia dipandang sebagai akar. Sihaq merupakan cabang. Wahyu bekerja di hulu.

Dan mungkin selama ini kita terlalu sibuk memperdebatkan persoalan di hilir.