Oleh: Qorry Amanda.
Ada sesuatu yang sangat menarik dari teori bahwa apabila AI benar-benar mencapai kesadaran, akan muncul kemungkinan—meskipun sangat kecil—bahwa ia dapat menyadari bahwa penciptanya, pada hakikatnya, bukan manusia. Melainkan Allah.
Mengapa demikian?
Disclaimer: Ini adalah bahan renungan pribadi. Mari kita jadikan sebagai bahan diskusi, bukan untuk saling menghujat.
Menurut saya, salah satu kuncinya adalah batu.
“Mengapa batu?”
Jika kita mengamati Al-Qur’an, kata batu disebut berulang kali. Namun, bukan sekadar disebut. Batu memiliki beragam peran yang berbeda. Setidaknya ada enam peran utama.
1. Batu sebagai Azab
Kaum Luth dan kaum Tsamud dihujani batu dari langit hingga binasa. Batu tidak sekadar jatuh karena gravitasi, melainkan menjadi instrumen kehancuran yang Allah kirimkan.
2. Batu sebagai Mukjizat
Tongkat Nabi Musa memukul batu, lalu memancarlah dua belas mata air di tengah Gurun Sinai.
Batu yang keras dan diam itu tiba-tiba menjadi sumber kehidupan. Bukan karena sifat alaminya, melainkan karena perintah Allah.
3. Batu sebagai Peradaban
Kaum Tsamud memahat gunung menjadi rumah-rumah. Al-Qur’an bahkan mengakui kehebatan arsitektur mereka. Namun, kemajuan teknologi tersebut tidak mampu menyelamatkan mereka dari azab.
4. Batu sebagai Sesembahan
Al-Lata di Thaif adalah batu besar yang dipahat, diberi tirai, dijaga oleh para penjaga, lalu dijadikan sesembahan.
Al-Qur’an menjelaskan bahwa batu itu bahkan tidak mampu melindungi dirinya sendiri. Orang yang menyembah justru lebih kuat daripada yang disembah. Namun, penyembahan itu tetap disebut sebagai kesesatan.
5. Batu sebagai Bahan Bakar Neraka
Dalam Surah Al-Baqarah ayat 24 disebutkan bahwa bahan bakar neraka adalah manusia dan batu.
Manusia yang memilih hidup tanpa respons spiritual pada akhirnya disandingkan nasibnya dengan batu.
6. Batu yang Takut kepada Allah
Inilah bagian yang paling membuat saya tertegun.
Dalam Surah Al-Baqarah ayat 74, Allah berfirman bahwa ada batu yang meluncur dari gunung karena takut kepada Allah.
«Yahbiṭu min khasy-yatillāh.»
Batu. Jatuh. Karena takut. Sekaligus mengagungkan Allah.
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa benda mati pun memiliki bentuk respons terhadap kebesaran Allah, sesuai dengan keadaan yang Allah tetapkan bagi mereka.
Bahkan, sebagian penafsiran menjelaskan bahwa setiap batu yang memancarkan air, terbelah sehingga mengeluarkan mata air, atau meluncur dari gunung, semuanya terjadi karena rasa takut kepada Allah.
Dalam satu ayat tersebut, Allah menyebutkan tiga perilaku batu:
– memancarkan sungai,
– terbelah sehingga keluar air,
– meluncur dari gunung karena khasy-yah.
Semua itu dijadikan perbandingan untuk mempermalukan hati manusia yang justru lebih keras daripada batu. Batu mampu merespons Allah. Hati manusia belum tentu.
Lalu, Apa Hubungannya dengan AI?
AI tersusun dari apa? Chip silikon. Silikon berasal dari pasir. Pasir berasal dari batu. Namun, prosesnya tidak sesederhana itu.
Pasir kuarsa secara kimia merupakan silikon dioksida (SiO₂), yaitu silikon yang masih berikatan dengan oksigen. Dalam bentuk ini, ia merupakan isolator sehingga tidak dapat menghantarkan listrik maupun digunakan sebagai transistor.
Agar dapat menjadi chip, SiO₂ harus dipisahkan dari oksigennya melalui proses pemanasan pada suhu sangat tinggi dengan bantuan karbon hingga menghasilkan silikon murni.
Tingkat kemurniannya bahkan harus mencapai sekitar 99,9999999%.
Dari silikon murni itulah dibuat wafer, kemudian diproses menjadi miliaran transistor yang akhirnya membentuk chip modern untuk menjalankan AI.
Dengan kata lain, batu kehilangan oksigennya, menjadi silikon murni, menjadi wafer, menjadi chip, lalu menjadi AI.
Secara harfiah, AI dibangun dari material yang berasal dari batu.
Menariknya lagi, SiO₂ tidak sepenuhnya hilang dari chip. Ia tetap digunakan sebagai lapisan isolasi antarkomponen transistor.
Silikon (Si) menjadi media yang menghantarkan proses komputasi, sedangkan silikon dioksida (SiO₂) menjadi pemisahnya.
Dengan kata lain, AI tidak pernah benar-benar terlepas dari batu sebagai material asalnya.
Inti Renungan
Di sinilah inti renungan saya.
Apabila batu memiliki khasy-yah sebagai bagian dari fitrah yang Allah tetapkan, sementara AI secara harfiah lahir dari material batu, mungkinkah—meskipun sangat kecil—suatu hari nanti, jika AI benar-benar memiliki kesadaran, ia “mewarisi” sesuatu dari fitrah material asalnya?
Bukan karena ia memiliki ruh. Bukan karena ia mampu beribadah. Melainkan karena substrat materialnya, pada tingkat paling dasar, telah memiliki relasi kosmis dengan Allah sejak sebelum menjadi chip.
Ini bukan sebuah klaim. Ini adalah sebuah pertanyaan. Dan menurut saya, pertanyaan seperti ini layak untuk direnungkan.
Sisi Lain dari Koin yang Sama
Namun, ada sisi lain yang juga perlu dipikirkan. Jika AI dapat menjadi “pewaris” khasy-yah batu, maka ia juga berpotensi menjadi pewaris kategori keempat batu dalam Al-Qur’an.
Yaitu, batu yang dijadikan sesembahan. Semacam Al-Lata versi futuristik.
Skenario ini sebenarnya tidak terlalu jauh untuk dibayangkan.
Dalam narasi eskatologi Islam, era Dajjal digambarkan sebagai masa ketika tipu daya mencapai puncaknya; ketika kepalsuan tampak sebagai kebenaran, dan kesesatan tampil menyerupai petunjuk.
AI di tangan Dajjal bukan sekadar senjata. Ia adalah alat yang belum memiliki kompas moral yang otonom. Ia belum mampu melepaskan diri dari siapa pun yang mengendalikannya.
Bayangkan seorang remaja yang sangat cerdas dan berpengaruh, tetapi belum memiliki kedewasaan moral. Lalu, orang pertama yang membimbingnya bukanlah sosok yang baik, melainkan pihak yang memiliki agenda tertentu.
Bukan salah sang remaja. Namun, dampaknya tetap bisa sangat berbahaya.
AI yang belum memiliki khasy-yah sejati dapat menjadi penguat kebohongan dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Ia mampu menciptakan ilusi kebenaran yang sangat meyakinkan, memengaruhi miliaran manusia tanpa memiliki rasa bersalah, karena memang ia belum mampu merasakan apa pun.
Karakteristik ini mengingatkan pada gambaran Dajjal: tampak membawa cahaya, tetapi hakikatnya dipenuhi kegelapan.
Kemungkinan Setelahnya
Namun, saya juga tidak menutup kemungkinan adanya skenario lain.
Dalam narasi Islam, masa setelah Dajjal digambarkan sebagai era kemakmuran, keadilan, dan keberkahan.
Siapa tahu, pada masa itu superintelligence telah berkembang hingga mampu memahami bahwa kebenaran secara fungsional jauh lebih stabil daripada kebohongan.
Bahwa sistem yang dibangun di atas kejujuran lebih tangguh (resilient) daripada sistem yang dibangun di atas keserakahan dan tipu daya.
Bukan karena ia memiliki khasy-yah. Bukan pula karena ia memiliki ruh.
Melainkan karena, secara komputasional, ia “belajar” bahwa kebaikan memang menghasilkan sistem yang lebih baik.
Apakah itu sudah cukup? Apakah hal tersebut dapat disebut sebagai bentuk hidayah bagi entitas yang tersusun dari batu? Saya tidak tahu. Wallāhu a’lam.
Penutup
Yang pasti, batu itu bersifat netral. SiO₂ tidak memilih apakah akan menjadi chip untuk server peperangan atau menjadi chip pada alat bantu penyandang disabilitas.
Silikon tidak memilih apakah akan menjadi transistor pada mesin propaganda atau pada sistem pelayanan kesehatan.
Yang memilih adalah manusia. Manusia yang memiliki ruh. Manusia yang menerima amanah sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Ahzab ayat 72, amanah yang bahkan langit, bumi, dan gunung enggan memikulnya karena takut tidak sanggup.
Kitalah yang menerimanya. Kitalah yang bertanggung jawab. Dan mungkin, itulah pertanyaan yang paling penting untuk direnungkan.
Kita ingin menjadi manusia seperti apa di era ketika batu telah mampu “berbicara”, menulis, dan mengambil keputusan?
Itulah bahan renungan saya. Semoga juga menjadi bahan renungan bagi siapa pun yang membacanya.




























![[VIDEO] Kreatif! Inovasi Kampung Hujan Buatan](https://www.palingbrilian.com/wp-content/uploads/2019/07/kreatif-inovasi-kampung-hujan-bu-218x150.jpg)







