Keajaiban-keajaiban Aksi Super Damai 212

1558

Seharian kemarin hingga subuh hari ini, Minggu (4/12) di grup-grup WhatsApp dan di timeline FB, saya membaca banyak sekali orang-orang menulis kesaksian-kesaksian baik berkaitan dengan ketakjuban, keajaiban, dan berbagai peristiwa yang menyentak nurani, hingga membacanya kadang harus disertai hujan air mata. Hebatnya lagi, di antara kesaksian-kesaksian dari peristiwa 212 itu beberapa diantaranya yang menulis orang non Muslim dan saudara kita beretnis China yang mengaku sengaja membaur dengan umat, hanya ingin tahu apa sebetulnya yang ingin dilakukan atau disampaikan umat Islam.

Bahkan seorang Ahoker yang sengaja menyusup, meminta maaf berkali-kali dalam tulisannya karena selama ini sudah bersuuzhan pada gerakan umat 212. Oh iya, ada juga wartawan non Muslim juga menulis kesaksiannya dan kekagumannya atas ketertiban dan kecintaan umat Islam pada Allah SWT, serta agamanya pada aksi 212.

Saya sendiri sampai bingung dan kehilangan kata-kata, bahkan sulit memulai menulis, karena saya seperti melihat mimpi dengan peristiwa-peristiwa “212”. Saya merasa seperti baru pulang umroh atau berhaji, rasa keimanan saya makin kuat. Saya benar-benar seperti mengulang umroh saya tiga tahun lalu saat hampir sepanjang puasa hingga lebaran berada di Mekkah. Semalam saya bilang pada para ponakan-ponakan, “Kalian belum ke Mekkah kan? Nah keajaiban-keajaiban yang terjadi di Mekkah itu sama persis dengan yang kalian rasakan waktu kalian di antara lautan umat Muslim 212 kemarin” kata saya kepada mereka.

Sekali lagi saya bingung mulai cerita dari mana, saking rasa yang bercampur aduk di hati hingga pagi ini. Saya pada Jum’at (212) lalu berangkat bersama tim JMP sekitar pukul 03.00 dini hari dari base camp Dapur Umum JMP di Cibubur dengan konvoi 12 mobil. Mobil saya posisi paling belakang. Keluar pintu Tol Jagorawi ada rasa mengaduk-aduk hati ketika saya lihat jalan tol di waktu sepagi itu sudah ramai, bahkan penuh. Keluar tol Rawamangun, Masya Allah saya mulai tersihir seperti berada dalam perjalanan Madinah-Mekkah atau Jeddah -Mekkah, saya melihat tiba-tiba jalanan terang benderang seperti banyak lampu layaknya di jalan-jalan Madinah-Makah atau Jeddah-Makah, saya melihat rombongan berbaju putih berjalan di alur jalan lambat, bus-bus besar di sepanjang Jalan Prmuka menurunkan umat yang semua berbaju putih, yang ternyata dari berbagai daerah, dan di berbagai sudut atau perempatan jalan juga banyak umat bergerombol seperti menunggu kelengkapan anggota rombongan.

Sebelum subuh itu jalan sudah demikian ramai, antar umat satu dengan yang lain saling sapa. Memasuki kawasan Gambir konvoi 12 kendaran JMP mulai dipecah 4 di Gambir, 4 Pintu Masuk Monas (dekat arah Harmoni) dan 4 lagi di depan Indosat (Patung Kuda). Saya kebagian yang di depan Indosat.

Saat memasuki kawasan Monas suasana hati saya seperti melihat kawasan di sekitar Masjidil Haram. Bagaimana tidak?

Di sana saya banyak melihat mobil-mobil pribadi yang di atapnya dipenuhi barang-barang (para mujahid dari luar kota), penjualan pakaian layaknya untuk kelengkapan haji bertebaran di trotoar Monas, tenda-tenda kecil, dan meja-meja mulai dipenuhi dengan minuman dan makanan. “Ayo sarapan dulu, silahkan ambil” teriak mereka yang jaga tenda atau meja penuh makanan, bahkan ada yang memakai TOA untuk memanggil umat bersarapan di subuh itu.

Masya Allah, saya juga melihat mereka yang datang subuh itu melaksanakan sholat subuh di jalan-jalan. Beberapa ruas jalan yg ditutup pagar kawat berduri di seputar Istana, dan di seputar RRI , membuat kami harus memutar lewat Harmoni uutuk menuju Indosat.

Sampai di depan Indosat (di depan patung kuda) kami mendapat tempat yang strategis, bahkan polisi dan Satpol PP mempersilahkan kami memarkir mobil-mobil kami di situ (tidak jauh dari Posko sederhana yang kami buat). Masya Allah, hanya berselang berapa menit kami parkir, tiba-tiba seperti air bah datang mobil-mobil logisik dari berbagai organisasi atau hanya sekedar kumpulan dari Grup WA, Ibu-Ibu Pengajian, Grup Arisan, dll. Sepanjang jalan menuju Monas dan di sekitar Monas di pinggir-pinggir jalan penuh makanan, bahkan sudah seperti pameran akbar kuliner. Dan semua GRATIS. Dari nasi campur, nasi padang (dari padang yang dibungkus kotak), nasi Madura, Lontong Sayur, Nasi Uduk dll , semua ada. Umat tinggal ambil sekuat dia bawa.

Merinding saya melihat para mujahid dan majahidah sampai bingung membawa makanan karena semua menawarkan gratis. Makanan meluber, dari subuh sampai selesai acara. Anda akan melihat, layaknya kalau Anda umroh di bulan puasa, di mana pada saat buka banyak sekali berbagai makanan ditawarkan, dan diberikan secara gratis. Jadi hari itu rasanya sampai bubar pun tdk ada mujahid yang kelaparan atau kehausan, bagaimana tidak ratusan ribu bahkan jutaan karton ada di sepanjang jalan. Dan umat tinggal mengambil saja.

Dari subuh aliran manusia menuju Monas mengalir makin deras, ujungnya pukul 07.00 pagi Monas sudah penuh, dan sekitar kami (di luar Monas) yg tadinya masih lengang pukul 08.00 juga sudah makin padat. Dan saat pukul 10.00 pagi, kami sdh tidak bisa bergerak kemana-mana. Kita hanya bisa berdiri di tempat. Bahkan waktu sholat, tidak sejekangkal pun tanah kosong. Sekali lagi persis suasana umroh atau saat berhaji.

Saya dan kawan-kawan saya juga merasakan keajaiban-keajaiban seperti di tanah suci. Sebagai contoh, saat pukul 8 pagi perut sudah mulai keroncongan saya pengin makan nasi padang seperti yang ditawarkan posko sebelah (banyak sayurnya). Saya minta sopir untuk meminta nasi bungkus padang ke posko sebelah, ternyata katanya sudah habis. Namun 10 menit kemudian, tiba-tiba anak muda membawa satu tas kresek besar nasi Padang persis seperti yg saya inginkan sambil mengatakan, “Titip ya tolong bagikan” katanya begitu saja sambil meninggalkan bungkusan di atas tumpukan karton. Masya Allah, ternyata isinya nggak hanya puluhan bungkus nasi padang, tapi juga camilan yg lagi dipinginin tim JMP Regina Cloudya Vallery (Evelin).

Tidak lama teman saya Mbak Ika Saraswati Sarah mengatakan, lagi nggak pengen makan nasi, tapi pengin makan kurma, entah dari mana asalnya tiba-tiba ada bapak-bapak mengulurkan tiga kantong kurma kualitas super. Lagi, kawan saya yang juga jaga Posko Logistik JMP Mbak Acut Purwoko berbisik pengin Risoles. Ya Allah, gak lama kemudian Mbak Acut dicolek dari belakang ada yang memberi risoles, Allahu Akbar!

Mbak Ika yg sudah mulai pengab dan susah nafas karena banyaknya orang, tiba-tiba mengatakan, Ya Allah berikan kami oksigen, tiba-tiba angin semilir yang sejuk sekali datang menerpa wajah dan hidung kami, hingga kami merasa lega bernafas.

Lagi, Evelin mengatakan, pengin ngemut permen, dan lagi-lagi juga pedagang kopi dan teh di belakang kami menyodorkan dua pak permen. Subhanallah! Usai sholat Jum’at saat logistik kita sendiri (makanan yang kita bawa) habis, ternyata kita semua Tim JMP pada kelaparan. Novia Opis yang dari pagi pengen nasi Padang dari RM tertentu, tiba-tiba membawa satu tumbukan nasi Padang Kotak (yang paginya kami sempat rasani atau omongin dari RM yg terkenal), dan satu box nasi bakar yg paginya juga sempat saya bayangkan. “Dari mana Pis?”“Saya lagi jalan, eh bapak-bapak pada ngasih ini”… Ya Allah lha kok apapun yang ada dalam pikiran dan menjadi keinginan kami ENGKAU BERIKAN!

Makanya saya sulit sekali menuliskan ini. Semua serba ajaib. Allah SWT ada di mana-mana , di hati kita, di Monas dan di mana saja, asal kita ikhlas meminta Allah pasti kabulkan!

Saat pulang saya sudah mikir pasti macet total nih. Ya Allah saya melihat luar biasa kebesaranMU, jutaan manusia itu mengalir dengan tertib, yang berjalan kaki di trotoar, yang naik motor di pingir jalan, sehingga mobil yang di dalamnya para mujahid begitu bebas mengalir. Ajaib jutaan manusia berkumpul, namun jalanan tidak macet. Wajar kadang tersendat sedikit.

Oh ya keajaiban juga terjadi pada cuaca, sebelum hujan turun ketika sholat Jum’at, setiap setengah jam bila udara sudah gerah, Allah SWT menyapukan angin disertai rintik hujan sebentar, kemudian panas lagi. Demikian terus hingga turun hujan saat sholat Jum’at dan berhenti persis bersamaan dengan berhentinya sholat Jum’at atau saat acara selesai.

Yang lucu lagi ternyata kita juga tidak boleh sedikit pun punya pikiran dan hati jahil saat 212. Saya baru saja menggelar karton untuk sedikit bisa duduk, saya bilang, mudah-mudahan nggak ada yang nginjak-injak. Eh baru diam sebentar, tiba-tiba mujahidah berbadan besar berpakaian hitam menginjak-injak tempat saya duduk begitu saja tanpa permisi (bagi yang sudah ke Mekkah pasti ketawa membaca tulisan ini, karena kita jemaah dari Indonesia itu sering kelindas, atau bahkan diinjak jamaah-jamaah haji berbadan besar dari negara lain) Berikutnya, saya lagi mikir, mudah-mudahan nggak ada yang lempar sepatu kulit nih hujan-hujan kayak gini. Masya Allah plok dua pasang sepatu terlempar di sebelah saya dari bapak-bapak yang mau sholat …ha..ha…sambil menutup hidung saya menyingkirkan sepatu tersebut. Saya bilang ke Mbak Ika, “Mbak baru aja aku bilang sudah dikirimin yg aku nggak suka ha.. ha…”

Itulah sekelumit cerita peristiwa 212 dari saya, dan bagi saya pribadi ini perisitiwa yang luar biasa, hingga tidak mungkin saya lupakan sepanjang hidup saya. Cerita ini juga akan saya simpan untuk anak-cucu saya, tentang bagaimana kami dan para umat lainnya berjuang sungguh-sungguh untuk membela dan menjaga agama kita dari hinaan siapapun.

Semoga setelah Aksi Bela Islam 3 (212) pemerintah dan penegak hukum tidak main-main lagi dengan gerakan umat, dan mau menindak tegas penista agama. Kalau tidak , jangan salahkan kalau suatu saat lautan umat akan membuat JAKARTA LUMPUH berhari-hari!

Jakarta, Minggu 412
NSD

Comments

comments