Buzzer Kemungkaran, Bentuk Modern Mustakbirun

65

Oleh: Zico Alviandri

Fungsi buzzer atau influencer adalah mempengaruhi orang yang terhubung dengannya dalam media sosial untuk sebuah opini tertentu. Dalam bisnis tugas mereka adalah memperkenalkan produk, dan dalam politik mereka mencitrakan atau menjatuhkan sebuah entitas politik, atau mendukung sebuah pendapat sehingga menjadi arus yang diikuti oleh followernya.

Sehingga buzzer biasanya adalah selebriti media sosial dengan angka follower yang besar. Atau bisa juga akun-akun kecil yang giat berkomentar, memuji, berdebat, nyinyir, dsb untuk membuat arus opini yang banyak dukungan.

Lebih luas lagi, mereka juga bisa menjadi endorser dari sebuah kemungkaran. Agar penyimpangan seksual, zina, judi, dan kemaksiatan lain bisa diterima masyarakat bahkan dilegalkan oleh pemerintah.

Dalam Al-Qur’an. Allah punya sebutan untuk promotor kejahilan. Diistilahkan sebagai “mustakbirun” (orang yang menyombongkan diri). Sebelum ada media sosial, mereka adalah pemuka-pemuka kaum berpengaruh yang menyombongkan diri di atas bumi, yang mengajak orang-orang untuk mengingkari ajaran para nabi. Setelah ada media sosial, kata mustakbirun mendapat bentuk modernnya pada buzzer-buzzer kemungkaran. Sedangkan mereka yang terpengaruh dan terbawa arus opini keburukan disebut “mustadh’afun” (orang yang lemah).

Dulu, Fir’aun langsung yang menjadi influencer kesyirikan. “Maka Fir’aun dengan perkataan itu telah mempengaruhi kaumnya, sehingga mereka patuh kepadanya. Sungguh mereka adalah kaum yang fasik.” (QS. az-Zukhruf:54)

Baca juga  Mengapa Kita Beragama ?

Kini, penguasa tak perlu mengotori tangannya untuk menghasut rakyat menyetujui kemungkaran yang akan ia jalankan atau legalkan dengan kuasanya. Ia cukup mencitrakan diri seolah humanis dengan aktivitas sebagaimana manusia umumnya. Akun media sosialnya diisi hal-hal yang positif saja. Sedangkan aktivitas menghasut, berdebat, bahkan membully orang yang tidak sejalan dikerjakan oleh pasukan “buzzer” yang dibina oleh penguasa. Dengan cara itu, banyak yang terpengaruh oleh arus besar dukungan atau penolakan. Mereka yang tak mau berpikir lebih dalam, rawan membebek pada seruan jahat.

Kini mustakbirun tak hanya monopoli pembesar Quraisy yang menyebar berita hoax pada rakyatnya dengan mengatakan Muhammad saw gila. Bukan hanya disematkan pada Fir’aun, atau pemuka kaum ‘Ad, Tsamud, Madyan, yang mengajak kaumnya menolak untuk bertauhid kepada Allah swt. Bukan hanya istilah untuk mereka yang karena memiliki pengaruh serta anak dan harta yang banyak sehingga merasa tak akan diazab oleh Allah swt, seperti pada Qur’an surat Saba’ ayat 34-35.

Konten kreator dan selebriti media sosial, meski mereka hanya rakyat biasa, sudah bisa menjadi mustakbirun. Dengan cara membuat artikel yang menyesatkan umat. Membuat video yang menghina agama. Membuat meme keren yang mempromosikan kemaksiatan. Berdebat, membully, menyanjung serta aktivitas lain yang akan di-like oleh followernya sehingga memperkuat kemungkaran.

Baca juga  Hinaan Berbungkus Pujian Untuk Raja Gila Sanjungan

Dan kita pengguna media sosial, jangan sampai berada di posisi mustadh’afun yang terpengaruh buzzer jahat itu. Kuncinya adalah selami kebenaran dengan nurani yang bersih. Jangan menilai kebenaran dari berisik/tidaknya dukungan pada sebuah opini. Mintalah pandangan pada orang-orang bijak yang sholeh. Dan satukan gerak bersama umat Islam yang sungguh-sungguh memperjuangkan agamanya.

Yang menarik adalah, Allah swt menyajikan transkrip dialog obrolan para mustakbirun dan mustadh’afun pada hari kiamat dalam Al-Qur’an. Perhatikan jeritan para pembebek (orang-orang yang lemah dalam memegang al-haq) menagih perlindungan pada para influencer yang dulu dunia bersikap sombong.

“Dan (ingatlah), ketika mereka berbantah-bantah dalam neraka, maka orang-orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Sesungguhnya kami adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan dari kami sebahagian azab api neraka?”

Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab: “Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka karena sesungguhnya Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba-(Nya).” (QS Ghafir: 47-48)

Baca juga  Catatan Alumni IPB: Izinkan Kami Berempati

“Dan orang-orang kafir berkata: “Kami sekali-kali tidak akan beriman kepada Al Quran ini dan tidak (pula) kepada kitab yang sebelumnya.” Dan (alangkah hebatnya) kalau kamu lihat ketika orang-orang yang zalim itu dihadapkan kepada Tuhannya, sebahagian dari mereka menghadap kan perkataan kepada sebagian yang lain; orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Kalau tidaklah karena kamu tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman.”

Orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah: “Kamikah yang telah menghalangi kamu dari petunjuk sesudah petunjuk itu datang kepadamu? (Tidak), sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa.”

Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “(Tidak) sebenarnya tipu daya(mu) di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kamu menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya.” Kedua belah pihak menyatakan penyesalan tatkala mereka melihat azab. Dan kami pasang belenggu di leher orang-orang yang kafir. Mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan. (QS Saba: 31-33)

Comments

comments