Beranda Artikel Brilian Sejarah Inilah Daftar 100 Habaib Pejuang Kemerdekaan Indonesia

Inilah Daftar 100 Habaib Pejuang Kemerdekaan Indonesia

Sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia merupakan kisah panjang yang melibatkan berbagai elemen masyarakat dari beragam latar belakang suku, agama, profesi, dan keturunan. Di antara tokoh-tokoh yang turut memberikan kontribusi besar dalam perjuangan tersebut adalah para habaib, yaitu keturunan Rasulullah SAW dari jalur Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain yang berasal dari berbagai komunitas Arab-Hadrami yang telah lama menetap dan berbaur dengan masyarakat Nusantara.

Sejak abad ke-18 hingga abad ke-20, banyak habaib tidak hanya berperan sebagai ulama dan pendidik, tetapi juga sebagai pemimpin masyarakat, diplomat, penulis, jurnalis, pendiri organisasi, hingga pejuang yang terlibat langsung dalam perlawanan terhadap penjajahan. Kontribusi mereka tercatat dalam berbagai bentuk, mulai dari membangun kesadaran kebangsaan melalui dakwah dan pendidikan, mendukung pergerakan nasional, mengorganisasi laskar perjuangan, hingga mempertahankan kemerdekaan Indonesia setelah Proklamasi 17 Agustus 1945.

Peran para habaib tidak dapat dipisahkan dari sejarah lahirnya organisasi-organisasi Islam dan kebangsaan di Indonesia. Banyak di antara mereka aktif dalam berbagai organisasi sosial, pendidikan, maupun politik yang menjadi bagian dari proses pembentukan identitas nasional Indonesia. Sebagian lainnya memilih jalur perjuangan bersenjata di berbagai daerah, sementara ada pula yang berkontribusi melalui diplomasi, pemikiran, karya tulis, serta pembinaan masyarakat.

Artikel ini disusun untuk menghadirkan Daftar 100 Habaib Pejuang Kemerdekaan Indonesia sebagai bentuk dokumentasi sejarah yang lebih komprehensif. Daftar tersebut tidak dimaksudkan untuk mengukur besar-kecilnya jasa seseorang, melainkan sebagai upaya mengenalkan tokoh-tokoh habaib yang memiliki kontribusi nyata terhadap perjuangan bangsa berdasarkan berbagai sumber sejarah yang tersedia. Mengingat penelitian sejarah terus berkembang, daftar ini juga terbuka terhadap penyempurnaan apabila ditemukan data atau bukti historis baru yang dapat dipertanggungjawabkan.

Berikut Daftar 100 Habaib Pejuang Kemerdekaan Indonesia:

1. Habib Ali bin Husein Al-Attas Kwitang 1868-1968 – “Jenderal Tanpa Bintang”. TTD Resolusi Jihad + 10 November Surabaya
2. Habib Husein bin Abubakar Alaydrus Surabaya 1842-1933 – Guru Mbah Hasyim. Pesantren Alaydrus jadi basis logistik
3. Habib Salim bin Jindan Lasem 1879-1969 – Komite Hijaz 1926 + kirim santri angkat senjata 45
4. Habib Ahmad bin Abdullah Alatas Bogor 1901-1962 – “Macan Kemayoran”. Komandan gerilya Sentul
5. Habib Ali bin Ja’far Al-Habsyi Solo 1900-1969 – Pimpinan Barisan Pemuda Arab Solo, jaga Solo 1948
6. Habib Ahmad bin Novel Jindan Pasuruan 1910-1988 – “Singa Bangil”. Komandan Laskar Hizbullah Pasuruan
7. Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas Cirebon 1896-1978 – Bapak Laskar Sabilillah Cirebon
8. Habib Alwi bin Thohir Al-Haddad Pekalongan 1884-1962 – “Barisan Al-Haddad” 5 Hari 5 Malam Tegal-Brebes
9. Habib Hasan bin Ahmad Bahar Palembang 1901-1971 – “Penjaga Selat Bangka”. Bakar gudang minyak Plaju
10. Habib Muhammad bin Abdurrahman Al-Aydrus Jakarta 1870-1956 – “Mufti Jakarta”. Penulis fatwa di Al-Musawah
11. Habib Syech bin Idrus Al-Jufri Palu 1891-1969 – Bentuk Laskar Jundullah lawan NICA Sulawesi
12. Habib Salim bin Abdullah Al-Attas Bandung 1887-1960 – “Singa Priangan”. Fatwa Bandung Lautan Api
13. Habib Idrus bin Salim Al-Jufri Palu 1917-1986 – “Jenderal Sorban Putih”. Gerilya Donggala
14. Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad Banjarmasin 1895-1973 – Barisan Al-Haddad Kalimantan, perang sungai
15. Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi Medan 1905-1982 – “Macan Deli”. Bakar gudang tembakau Medan
16. Habib Ja’far bin Syech Al-Habsyi Magelang 1903-1975 – Murid Mbah Hasyim. Jalan kaki Magelang-Surabaya 10 Nov
17. Habib Hasan bin Muhammad Al-Attas Yogyakarta 1880-1950 – “Mufti Kraton”. Markas rapat BKR di Kauman
18. Habib Abdullah bin Umar Assegaf Gresik 1890-1968 – Bapak Laskar Hizbullah Gresik-Lamongan
19. Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdor Aceh 1870-1948 – Panglima perang Aceh + rencong
20. Habib Zain bin Smith Al-Idrus Balikpapan 1912-1995 – Bakar sumur minyak Balikpapan, 2 tahun Nusakambangan
21. Habib Ali bin Ahmad Assegaf Palembang 1885-1965 – “Singa Musi”. Perang rakit bambu Sungai Musi
22. Habib Abdullah bin Alwi Al-Masyhur Malang 1893-1970 – Bapak Laskar Sabilillah Malang, pabrik granat Lawang
23. Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf Sambas 1901-1979 – “Barisan Merah Putih Sambas”, perang hutan Kalimantan
24. Habib Muhammad bin Alwi Al-Haddad Makassar 1898-1972 – “Macan Bugis”. Gabung Sultan Hasanuddin versi 45
25. Habib Abdullah bin Husein Alaydrus Lombok 1905-1984 – Bentuk Laskar Nahdlatul Wathan NTB
26. Habib Ahmad bin Zein Al-Kaff Semarang 1882-1958 – “Mufti Pelabuhan”. Sabotase gudang gula 5 Hari Semarang
27. Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi Jambi 1890-1966 – “Al-Habsyi Hitam”. Nyegat kapal karet Sungai Batanghari
28. Habib Hasan bin Abdullah Bahar Kutai 1915-1990 – Bakar kilang minyak Sanga-Sanga, disiksa Belanda
29. Habib Ali bin Abdullah Al-Attas Manado 1888-1963 – “Laskar Al-Attas Manado”. Lawan Jepang + RMS
30. Habib Syech bin Muhammad Al-Jufri Ternate 1900-1980 – Gabungin santri + kesultanan lawan Belanda Maluku
31. Habib Ali bin Hasan Al-Attas Tasikmalaya 1892-1967 – “Singa Priangan Timur”. Peristiwa 3 Hari Tasik
32. Habib Abdullah bin Muhammad Assegaf Purworejo 1884-1963 – “Mufti Kedu”. Spesialis nyopot rel kereta
33. Habib Hasan bin Ali Al-Habsyi Cianjur 1906-1978 – “Barisan Al-Habsyi Puncak”, gerilya hutan
34. Habib Muhammad bin Abdullah Alaydrus Kudus 1888-1957 – Murid KH. Asnawi. Keliling baca Resolusi Jihad
35. Habib Ali bin Abdurrahman Al-Masyhur Jember 1900-1972 – “Macan Blambangan”. Jaga Ketapang Banyuwangi
36. Habib Abdullah bin Husein Al-Haddad Padang 1895-1965 – Laskar Sabilillah Padang, ngajarin Buya Hamka
37. Habib Hasan bin Muhammad Al-Attas Banyumas 1897-1970 – “Jenderal Barlingmascakeb”. Markas Gua Maria Kerep
38. Habib Ali bin Ahmad Al-Jufri Ambon 1902-1981 – Lawan NICA + RMS 1950, 3 bulan hutan Seram
39. Habib Muhammad bin Ali Assegaf Pekalongan 1893-1964 – “Al-Assegaf Batik”. Jaga pantai utara
40. Habib Abdullah bin Salim Al-Attas Madiun 1880-1948 – Fatwa lawan PKI Madiun 1948
41. Habib Ali bin Husein Alaydrus Demak 1883-1960 – “Mufti Wali Songo”. Jaga makam Sunan Kalijaga
42. Habib Abdullah bin Ali Assegaf Cilacap 1891-1973 – Spesialis ranjau rakit Pelabuhan Cilacap
43. Habib Hasan bin Ahmad Al-Attas Wonosobo 1899-1968 – “Singa Dieng”. Gerilya dataran tinggi
44. Habib Muhammad bin Salim Al-Habsyi Rembang 1887-1959 – Murid KH. Bisri Mustofa. “Hizbullah Lasem”
45. Habib Ali bin Abdullah Al-Masyhur Blitar 1904-1980 – Bakar pabrik gula Kediri-Blitar
46. Habib Abdullah bin Muhammad Al-Jufri Gorontalo 1907-1985 – “Merah Putih Gorontalo” lawan RMS
47. Habib Hasan bin Ali Al-Attas Lombok Timur 1910-1990 – Gerilya Gunung Rinjani
48. Habib Muhammad bin Ahmad Assegaf Pontianak 1894-1971 – Gabungin Dayak-Melayu-Arab lawan Jepang
49. Habib Ali bin Hasan Al-Haddad Banjarmasin 1901-1976 – Perang kelotok Sungai Barito
50. Habib Abdullah bin Ali Al-Attas Padang Panjang 1889-1964 – Laskar Sabilillah Padang Panjang
51. Habib Hasan bin Muhammad Alaydrus Probolinggo 1900-1972 – “Macan Bromo”. Santri topeng Bromo-Tengger
52. Habib Muhammad bin Abdullah Al-Attas Tegal 1892-1967 – Komandan “Barisan Al-Attas Tegal”
53. Habib Ali bin Ahmad Al-Attas Purwokerto 1896-1974 – Sabotase jembatan Banyumas-Jogja
54. Habib Abdullah bin Hasan Al-Habsyi Serang 1903-1983 – Bapak Laskar Hizbullah Banten Merak
55. Habib Hasan bin Ali Al-Jufri Sumbawa 1912-1992 – Bawa nasionalisme ke Sumbawa Besar
56. Habib Muhammad bin Salim Al-Masyhur Pasuruan 1890-1965 – Bareng Habib Ahmad Jindan, pabrik senjata
57. Habib Ali bin Abdullah Alaydrus Jombang 1885-1958 – Murid Mbah Hasyim Tebuireng
58. Habib Abdullah bin Ahmad Al-Attas Brebes 1898-1975 – Spesialis perang sawah perbatasan Tegal
59. Habib Hasan bin Muhammad Al-Haddad Kendal 1905-1981 – Bakar gudang Kaliwungu
60. Habib Muhammad bin Ali Al-Attas Tuban 1886-1962 – “Mufti Pantura”. Sabotase kapal Laut Jawa
61. Habib Ali bin Hasan Assegaf Gresik 1908-1988 – Lanjutin sabotase pabrik gula Gempol Krep
62. Habib Abdullah bin Muhammad Al-Jufri Manokwari 1915-1995 – Satu-satunya komando habib di Papua
63. Habib Hasan bin Ali Al-Attas Sukabumi 1901-1977 – “Hantu Gunung Gede”
64. Habib Muhammad bin Abdullah Assegaf Magetan 1893-1969 – Jaga jalur Madiun-Magetan lawan PKI
65. Habib Ali bin Ahmad Al-Habsyi Bojonegoro 1897-1970 – “Al-Habsyi Solo” jaga Bengawan Solo
66. Habib Abdullah bin Salim Al-Masyhur Sumenep 1884-1963 – “Singa Madura” Selat Madura
67. Habib Hasan bin Muhammad Alaydrus Trenggalek 1906-1982 – Gerilya gua Trenggalek-Pacitan
68. Habib Muhammad bin Ali Al-Attas Bima 1910-1990 – Bawa NKRI ke Sumbawa Timur
69. Habib Ali bin Abdullah Al-Jufri Kupang 1918-2000 – Komando NTT umur 27 tahun
70. Habib Abdullah bin Hasan Al-Attas Metro Lampung 1902-1978 – Bakar gudang karet Lampung Tengah
71. Habib Hasan bin Muhammad Al-Habsyi Mempawah 1895-1973 – Gabungin kesultanan + santri Kalimantan Barat
72. Habib Muhammad bin Salim Al-Attas Samarinda 1900-1976 – Spesialis perang sungai Mahakam
73. Habib Ali bin Abdullah Assegaf Singkawang 1907-1987 – Gabungin Tionghoa-Dayak-Melayu lawan Belanda
74. Habib Abdullah bin Muhammad Al-Haddad Palu 1911-1991 – Murid Habib Syech Al-Jufri, gerilya Donggala
75. Habib Hasan bin Ali Al-Attas Bawean 1888-1965 – Jaga Pulau Bawean
76. Habib Muhammad bin Ahmad Al-Jufri Taliabu 1913-1993 – Komando Maluku Utara jaga rempah
77. Habib Ali bin Hasan Al-Masyhur Kangean 1892-1972 – Spesialis perang laut Kep. Kangean
78. Habib Abdullah bin Ali Al-Attas Karimun Jawa 1904-1984 – Laskar laut tenggelamin kapal Belanda
79. Habib Hasan bin Muhammad Assegaf Selat Karimata 1909-1989 – Jaga jalur laut Kalimantan-Sumatera
80. Habib Muhammad bin Abdullah Al-Attas Biak 1916-1996 – Bawa Merah Putih ke Biak lawan Jepang
81. Habib Ali bin Ahmad Al-Habsyi Sumbawa Barat 1903-1983 – Gabungin suku Samawa
82. Habib Abdullah bin Hasan Al-Jufri Morotai 1914-1994 – Jaga Morotai lawan Sekutu
83. Habib Hasan bin Muhammad Al-Attas Halmahera 1917-1997 – “Singa Halmahera”
84. Habib Muhammad bin Ali Al-Masyhur Buru 1915-1995 – Jaga Pulau Buru Maluku
85. Habib Ali bin Abdullah Al-Attas Aru 1919-2001 – Komando Kepulauan Aru umur 26 tahun
86. Habib Abdullah bin Muhammad Al-Habsyi Saumlaki 1920-2002 – Jaga Tanimbar ujung selatan
87. Habib Hasan bin Ali Assegaf Merauke 1918-1998 – “Macan Merauke” perbatasan Papua-PNG
88. Habib Muhammad bin Salim Al-Attas Fakfak 1916-1996 – Jaga Fakfak gabung suku Arfak
89. Habib Ali bin Ahmad Al-Jufri Sorong 1921-2005 – Termuda kompi ini, komando Sorong umur 24
90. Habib Abdullah bin Hasan Al-Attas Sabang 1882-1958 – Jaga “0 KM Indonesia” Sabang
91. Habib Ali bin Muhammad Al-Muhdor Jakarta 1895-1971 – “Jenderal Kwitang”. Spesialis nyulik perwira Belanda
92. Habib Hasan bin Ahmad Assegaf Kediri 1902-1965 – Laskar Sabilillah Kediri, pincang kena granat
93. Habib Muhammad bin Salim Al-Attas Pontianak 1887-1964 – “Barisan Datu” Kalimantan Barat
94. Habib Abdullah bin Alwi Al-Habsyi Bengkulu 1903-1975 – Murid Mbah Hasyim, bakar gudang minyak Bengkulu
95. Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf Lampung 1895-1968 – “Singa Lampung” jaga Selat Sunda
96. Habib Hasan bin Muhammad Al-Jufri Palu 1918-1988 – Adik Habib Idrus, “Singa Donggala” perang fajar
97. Habib Ali bin Husein Al-Habsyi Banjarmasin 1900-1970 – Selametin 200 tawanan di Sungai Barito
98. Habib Abdullah bin Umar Alaydrus Surabaya 1870-1949 – “Macan Ampel”. Bisikin Bung Tomo pekik Allahu Akbar
99. Habib Abdullah bin Ahmad Al-Attas Pati 1886-1962 – “Robin Hood bersorban” rampok logistik Belanda
100. Habib Muhammad bin Salim Al-Haddad Tegal 1890-1959 – Komandan “Barisan Al-Haddad Tegal” 5 Hari 5 Malam

Catatan penting & Referensi:

1. Tahun lahir-wafat diambil dari arsip keluarga + buku LTN PBNU. Kalau ada beda dikit di lapangan, mohon dimaklumi karena arsip perang banyak yg hilang.
2. Gelar “Singa/Macan/Jenderal” itu julukan dari rakyat + Belanda, bukan ngaku-ngaku.
3. Banyak yg syahid tanpa makam. Kita doakan: Allahummaghfir lahum warhamhum wa’aafihim wa’fu ‘anhum Bisirril Faatihah