Untuk Indonesia Raya

Standar perjalanan waktu bisa sangat berbeda, bergantung objeknya. Bagi manusia, usia 71 tahun adalah usia senja dan tengah bersiap menuju ke peraduannya yang abadi. Tapi bagi sebuah bangsa dan negara, usia 71 tahun mungkin terhitung usia remaja. Karena spektrum perjalanan sejarah yang dilaluinya memang lebih lama.

Perjalanan usia semestinya berbanding lurus dengan ilmu, kematangan, kedewasaan dan juga kemakmuran. Artinya semakin lama berdiri sebuah negara, berarti semakin tinggi tingkat kemakmurannya, sehakin kuat sistem sosialnya, semakin mantap struktur bernegaranya dll. Contoh paling mudah tentu saja negara – negara maju seperti Amerika, Inggris dll.

Namun ternyata, hal itu tidak selalu paralel. Yunani adalah negara yang pernah menjadi kiblat peradaban eropa dengan rentang usia yang sangat lama. Tapi kabar terakhir menunjukkan bahwa Yunani berstatus sebagai negara bangkrut. Hal yang kurang lebih sama juga dialami oleh Mesir. Sebaliknya, Malaysia usianya 12 tahun lebih muda dari Indonesia. Mereka pernah mengimpor guru dari Indonesia, tapi sekarang malah mengimpor pembantu dan TKI. Artinya, Malaysia sukses bermetanorfosis dari negara “murid” menjadi negara “majikan” bagi Indonesia.

Pada usia 71 tahun, kita sungguh melihat bangsa Indonesia berjalan ke arah yang tidak jelas. Bukannya bertambah maju, malah tambah terbelit krisis. Pasti ada yang salah dengan bangsa ini, hanya beda orang beda cara meresponnya. Ada yang mengingkari fakta dan terus terbuai dengan ilusi kejayaan, ada yang hobinya mencari kambing hitam dan adapula yang mencoba berpartisipasi menjadi bagian dari solusi.

Ada banyak teori hebat untuk membangun negeri, tapi sejenak mari kita renungkan potongan baik syair lagu Indonesia Raya yang diciptakan oleh WR Soepratman “Bangunlah jiwanya, Bangunlah badannya, Untuk Indonesia Raya”. Mungkin ada banyak.nilai yang bisa kita petik darinya.

Pertama, Membangun Jiwa

Pertama kali yang perlu dibangunkan dalam rangka membangun kejayaan adalah membangunkan jiwa – jiwa yang tertidur. Pada masa penjajahan, hal ini dimaknai dengan menyalakan nyali untuk berperang, menjelaskan tentang kehinaan bagi bangsa yang terjajah serta memberi visi tentang arti kemerdekaan. Alhasil, rakyat Indonesia bergerak untuk melawan penjajah meski kalah total dalam hal persenjataan.

Dalam teori perang, seorang jendral akan memastikan bahwa moral pasukannya memang tengah “on fire”. Maka pasukannya akan diberi motivasi dosis tinggi, berupa yel – yel, lagu penyemangat hingga iringan genderang sebelum masuk ke gelanggang perang. Tidak ada gunanya senjata hebat dan peralatan canggih jika pasukannya menderita penyakit al wahn, yakti hubbud dun-ya wa karahiyatul maut. Inilah yang dahulu dilakukan oleh Sultan Hasanudin, Pangeran Diponegoro hingga Bung Tomo dan Bung Karno.

Saat ini kita sudah merdeka. Peran untuk membangun jiwa masih harus dilakukan, tapi dengan cara yang berbeda. Bukan dengan orang berani mati, tapi berani hidup. Berani menghadapi kenyataan, berani berjuang dan mengambil resiko serta berani bangkit dari kekalahan. Kata orang bijak, membuat orang berani hidup konon jauh lebih sulit ketimbang membuat orang berani mati.

Dimana kita melakukan tugas untuk membangun jiwa? Banyak sekali. Disekolah, dimedia sosial, di radio dan televisi, di majelis taklim dan panggung dakwah, melalui musik, film dll. Disekolah ada kurikulum pendidikan karakter, dibirokrasi ada jargon revolusi mental dll. Karena itu, sebarkanlah virus – virus positif kepada semua orang dengan segala channel dan jaringan yang kita miliki. Agar kita menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah bangsa.

Kedua, Membangun Fisik

Kondisi fisik menjadi salah satu ukuran yang kasat mata tentang kemajuan suatu bangsa. Negara yang bangunan fisiknya yang hancur karena perang sudah menunjukkan bahwa mereka gagal merajut harmoni sosial. Negara yang infrastrukturnya tertinggal sudah menunjukkan bahwa mereka gagal dalam menjalankan program & kebijakan pembangunan, distribusi pendapatan dan pemerataan pendapatan.

Kita sering terpesona dengan kemajuan fisik yang dimiliki oleh negara – negara maju, mulai dari megahnya stadion olehraga hingga gedung – gedung pencakar langit yang tinggi menjulang. Sedang dinegeri Indonesia, masih sering kita jumpai banyaknya sekolah yang atapnya roboh dan jembatan hancur yang tetap digunakan anak – anak untuk bersekolah. Secara fisik, kita memang tertinggal tapi itu adalah harga yang harus dibayar sebagai akibat ketertinggalan pembangunan jiwa, mental dan karakter.

Negara – negara maju sering melakukan razia makanan yang sudah kadaluarsa dan tidak layak konsumsi agar tidak “meracuni” penduduknya. Sedang Indonesia membagi – bagikan beras miskin yang sudah berulat agar dimakan oleh rakyatnya. Negara – negara maju memberikan tambahan nutrisi dan beragam insentif khusus kepada generasi mudanya. Sedang Indonesia memberi mainan yang membuai serta tambahan beban hutang kepada setiap bayi yang lahir. Negara – negara maju menghemat sumber cadangan energinya hanya untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Sedang Indonesia menjual murah minyak mentah, batu bara, hingga cadangan emasnya kepada pihak luar.

Pembangunan fisik memang penting, namun statusnya adalah turunan dari pembangunan mental (jiwa, karakter dll). Jika kita mendengar banyak program pemerintah yang bocor anggarannya, maka ini indikasi bahwa pembangunan jiwa masih jalan ditempat. Akibatnya, meski sudah 71 tahun usianya masih banyak jalan, jembatan, gedung dan infrastruktur lainnya yang belum bisa dibangun. Bukan karena tidak ada insinyur hebat, bukan karena tidak ada teknokrat jenius, tapi karena mentalnya belum sepenuhnya merdeka.

Ketiga, Berbakti Kepada Negeri

Setelah kita membangun jiwa, serta bergerak membangun fisik maka jangan lupa bahwa semua harus didedikasikan untuk membangun negeri tercinta. Bukan untuk dijual kepada negara asing, bukan untuk menghancurkan sendi – sendi bernegara tapi digunakan sebesar – besar untuk kemakmuran masyarakat.

Ada orang – orang dengan ide besar, pemikiran maju, penemuan hebat namun semua tidak dikhidmatkan untuk negeri ini. Disini, kita memang harus banyak berintrospeksi, apakah benar mereka memang tidak punya rasa nasionalisme, apakah negeri sendiri memang tidak menghargai hasil karyanya atau karena para pemimpin gagal menciptakan suasana yang kondusif bagi mereka untuk berkiprah dan berkarya. Betapa banyak orang Indonesia atau penemuan hasil karya anak negeri yang akhirnya dibajak, dipatenkan dan dimanfaatkan oleh pemerintah luar negeri. Mulai dari mobil ramah lingkungan hingga alat diagnosa kanker.

Diluar negeri, orang – orang paling jenius tidak diperkenankan untuk bekerja keluar negeri. Mereka adalah aset bangsa, posisinya harus terus menerus berada didalam negeri serta mendedikasikan segala kemampuannya untuk negerinya. Hal seperti ini bukan hanya berlaku untuk para ilmuwan jenius tapi juga untuk olahragawan. Sebagaimana Pele diproteksi tidak boleh merumput diklub eropa oleh Presiden Brazil karena dianggap sebagai National Treasure. Jika ada ilmuwan hebat, maka mereka akan membawanya ke negerinya dan diberi kewarganegaraan sebagaimana Albert Einstein dari Jerman dan Stephen Hawking dari Inggris yang diboyong ke Amerika.

Kami sungguh salut dengan langkah berani Presiden Soeharto. Yakni saat beliau tahu ada anak bangsa yang super jenius, maka beliau segera menghubunginya agar orang tersebut pulang ke Indonesia dan siap memberinya jabatan apapun yang diinginkan. Di Jerman, orang itu sudah ditawari kewarganegaraan serta bermacam jabatan dengan gaji menggiurkan. Namun orang tersebut memilih untuk pulang. Selama berapa periode, dia dipercaya oleh Presiden Soeharto menjabat Menristek/kepala BPPT. Orang itu adalah BJ Habibie.

Semestinya, pola seperti inilah yang seharusnya dilakukan oleh pemimpin bangsa. Yakni memajukan generasi mudanya agar siap berkontribusi serta memulangkan putra – putra terbaiknya agar kembali ke Indonesia. Sungguh, mereka adalah jaminan masa depan Indonesia.

Khatimah

Saat menafsirkan surat Al ‘Ashr, Imam Syafi’i berkomentar “Andai seluruh manusia merenungi surat ini, niscaya sudah mencukupi untuk mereka”. Imam Syafi’i mengatakan itu karena begitu besar makna kandungannya serta begitu luas hikmah pelajaran yang terkandung didalam Surat Al ‘Ashr. Maka dengan semangat yang kurang lebih sama, kami menyampaikan “Andai seluruh bangsa Indonesia merenungi lagu Indonesia Raya, niscaya hal ini sudah mencukupi bagi mereka”. Wallahu a’lam.

Eko Jun

BAGIKAN