Sudah sejak awal perang Donald Trump berusaha membawa negara-negara sekutunya untuk ikut tampil. Dia membujuk, mengancam, bahkan mempermalukan negara-negara itu supaya mereka mengirim tentara. Namun hampir semuanya bergeming.
Salah satu negara sekutu yang tak habis-habis dibujuk, diancam, hingga dipermalukan adalah Jepang. Dalam pertemuan resmi dengan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, Trump bahkan menggunakan peristiwa Pearl Harbour sebagai candaan sarkastik. Bagi Jepang yang sedang mati-matian menghapus citra kelam masa lalu, candaan tersebut merupakan penghinaan besar.
Jepang menolak terlibat karena mereka tahu bangsa Iran adalah salah satu dari segelintir negara yang punya solidaritas kemanusiaan sangat besar. Namun Jepang menyanggupi akan membantu membersihkan Selat Hormuz dari ranjau setelah perang selesai.
Dalam peristiwa meledaknya reaktor nuklir Fukushima tahun 2011, hampir semua kantor kedutaan asing kosong. Mereka ditarik pulang ke negara asal dengan alasan keamanan. Hanya ada segelintir yang masih bertahan, salah satunya adalah Kedubes Iran.
Duta besar Iran waktu itu dijabat oleh Abbas Aragchi. Alih-alih pulang dan mengamankan diri, Abbas bersama timnya justru mengunjungi daerah-daerah yang paling terdampak, seperti Yamada dan Iwate. Di sana seluruh komunitas hancur. Rakyat yang selamat meringkuk di rumah masing-masing. Takut dan lapar.
Bersama anggota timnya, Abbas Aragchi membuka dapur umum. Mereka menyajikan makanan hangat khas Iran, menemani warga Jepang yang telah kehilangan segalanya dengan keramahan dan kehangatan persahabatan.
Saat Abbas ditanya mengapa dia melakukan itu, Abbas menjawab bahwa Jepang pernah membantu Iran saat gempa bumi Bam. Jadi sekarang saatnya Iran membantu Jepang. Jawaban sederhana ini mudah dipahami. Pemerintah Jepang menganugerahi Abbas Aragchi gelar Ordo Matahari Terbit, sebuah penghargaan tertinggi dari pemerintah Jepang untuk individu dengan pencapaian luar biasa.
Bangsa Jepang bukan orang-orang dengan memori pendek. Mereka tidak akan pernah melupakan solidaritas bangsa Iran yang langsung menyentuh nurani ini. Iran bukan musuh Jepang. PM Sanae paham rakyat Jepang akan terluka jika dia memutuskan memerangi Iran.
Sebagai balasannya, Iran telah mengizinkan, bahkan akan mengawal kapal-kapal Jepang melewati Selat Hormuz dengan aman, walau Jepang termasuk sekutu AS dan Israel. Jepang cukup minta izin saja buat koordinasi.
Kisah persahabatan antara Iran dan Jepang ini membuktikan bahwa dalam perang sekalut apapun, solidaritas, kemanusiaan, dan balas budi tetap dikedepankan oleh bangsa-bangsa beradab.
Sepertinya hanya AS dan Israel yang tidak bisa memahami bahasa solidaritas, balas budi, dan kemanusiaan ini. Keduanya bangsa biadab yang hanya bisa memahami bahasa kekerasan, penindasan, fitnah, dan genosida.























![[VIDEO] Bincang-Bincang UAS dengan Rocky Gerung](https://www.palingbrilian.com/wp-content/uploads/2020/06/video-bincang-bincang-uas-dengan-218x150.jpg)
![[VIDEO] Teknik Hidroganik, Teknik Baru Budidaya Padi](https://www.palingbrilian.com/wp-content/uploads/2019/10/tani-218x150.jpg)
![[VIDEO] Waspada, Modus Pencurian Mobil saat Sopir Membuka Gerbang](https://www.palingbrilian.com/wp-content/uploads/2019/09/waspada-modus-pencurian-mobil-sa-218x150.jpg)
![[VIDEO] Belajar Matematika Pakai Hotwheels](https://www.palingbrilian.com/wp-content/uploads/2019/09/belajar-matematika-pakai-hotwhee-218x150.jpg)
