Teroris New Zealand: Bukan Sembarang Teroris!

Siang tadi, saya lagi mempelajari tentang bagaimana strategi seorang Scipio Africanus melawan Hannibal di daerah Zama , Tunisia. Kejadian itu pada 202 BC, disebut Battle of Zama.

Namun, isi kepala loncat ke Battle of Vienna 1683, ketika Tentara Ustmani Turki dipukul mundur oleh tentara Polandia (Holy Roman Empire)

Kemudian langsung loncat lagi ke tahun 1189, yakni Acre tahun 1189.

Ya… Teroris yang terkutuk di New Zealand “menghias” Riffle pembunuh mereka dengan tulisan dan simbol Vienna 1683, Acre 1189.

Jadi ini bukan hanya “balas dendam”, tapi juga bercerita tentang kemenangan mereka atas kaum Muslim.

Mereka mengerti tentang sejarah. Acre 1189 dan Vienna 1683 adalah peristiwa dimana “Muslim” dikalahkan.

Baca juga  Menelusuri Jejak Lahirnya Islamphobia Dari Kejadian Teror Di Selandia Baru

Jadi?

Ya, ini teroris pintar, punya literasi yang bagus. Sengaja atau tidak, dia bawa-bawa tentang masa lalu Serbia-Bosnia, bawa-bawa “White-Supremacist“. Live-nya pun diiringi dengan soundtrack yang SARA banget. Entahlah, apa ini memang secara ideologis atau direncanakan, supaya Muslim bisa menduga-duga, lalu terpancing untuk melakukan hal yang sama?

Saya tidak berani berspekulasi lebih jauh,  yang jelas mata dunia terbuka, bahwa Teroris ya Teroris. Muslim ya Muslim. Muslim bukan Teroris.

Teroris Selandia Baru juga Baca Sejarah!

Teroris Selandia Baru (New Zealand) yg bernama Brenton Tarrant yang membunuh secara sadis bahkan secara live puluhan muslim tak berdaya di Masjid al-Noor, Christchurch, itu menghiasi senjatanya dengan berbagai grafiti, salah satunya bertuliskan:

Baca juga  Hello Brother, Pesan Perdamaian Sebelum Akhirnya Ditembak

“TOURS 732” dan “CHARLES MARTEL”

Dia membaca sejarah yang kita kenal sebagai Ghazwah Balath Syuhada yang terjadi di wilayah perbatasan Aquitaine-Merovingia (Perancis sekarang) dimana pasukan kaum Muslimin asal Andalus di bawah pimpinan Emir Abdurrahman bin Abdillah al-Ghafiqi dikalahkan oleh Charles Martel pada tahun 732 Masehi (113 Hijriyah).

Kekhilafahan Umayyah pada waktu itu berpusat di Damaskus dipimpin oleh Abdul Walid Hisyam bin Abdilmalik.

Lahumul Fatihah kepada seluruh syuhada di Masjid al-Noor dan seluruh Dunia Islam.

Agung Waspodo, tidak butuh kata empati dari pemerintah Selandia Baru dan Australia (ANZAC) karena dia tahu sejarah masa lalu mereka dan telah kehilangan kata-kata, menahan makian, hanya berpesan jangan lupa baca sejarah! Teman sudah tahu tentang Balath Syuhada?

Baca juga  Inilah Kisah Aksi Heroik Penjaga Masjid Merebut Senjata Pelaku Penembakan

Wallahu’alam bis shawab…

Hendra Ehenmaru dan dari berbagai sumber

SUMBERHendra Ehenmaru
BAGIKAN