Istilah nada dan dakwah pertama kali kami kenal saat kolaborasi antara Bang Haji Rhoma Irama dengan Almarhum KH Zainudin MZ. Ada eksperimen untuk menggabungkan antara nada dan dakwah dalam satu panggung. Sebelumnya, nada punya panggung sendiri dan dakwah juga punya panggung sendiri. Meskipun ada musisi dan group Nasida Ria yang menciptakan tembang bernuansa religi, namun mereka jelas lebih banyak mengambil porsi nada ketimbang dakwah. Sedangkan dakwah lebih menjadi otoritasnya ulama.
Perdebatan pun segera mengemuka diruang publik, efektifkah memadukan nada dan dakwah dalam satu panggung? Apakah ada contohnya dari rasulullah dan para ulama salaf? Apakah hal ini tidak menodai hakikat dakwah? Mampukah nada dan dakwah berjalan beriringan jika hakekatnya nada membawa pada kelalaian sedang dakwah mengajak pada ketaatan? Perdebatan demi perdebatan akan semakin panjang, jika kita bawa pada diskursus hukum nyanyian dan musik.
Pintu – Pintu Dakwah
Boleh jadi kita memiliki semangat yang tinggi untuk menjadi manusia yang lurus. Dunia politik yang kotor dan penuh intrik, kita hindari. Dunia bisnis dan perdagangan yang penuh kecurangan, kita tinggalkan. Demikian pula dengan dunia seni yang penuh kelalaian dan maksiat, kita jauhi. Salahkah sikap itu? Tidak salah jika menjadi pilihan pribadi, karena kita lebih tahu sebesar apa kekuatan iman dan batas imunitas yang kita miliki. Bukankah rasulullah juga memerintahkan Abu Dzar untuk menjauhi masalah kepemimpinan disebabkan kelemahan yang dimilikinya?
Pilihan untuk menghindari, menjauhi dan meninggalkan tidak bisa disalahkan, karena itu adalah pilihan yang lebih membawa pada keselamatan. Namun bagi orang yang kuat, pilihannya adalah maju, berkiprah dan menciptakan arus baru. Mereka masuk dan berinteraksi didalamnya dengan status “on mission”. Dengan pergulatan yang kuat terhadap dalil agama serta arahan dari para asatidz, lahirlah produk berupa politik islam, bisnis islam, bank islam dll. Termasuk diantaranya adalah seni islam, baik film, lagu, tari maupun pertunjukkan.
Segala hal bisa dijadikan sebagai sarana dakwah. Namun perlu kita pahami bahwa segala sarana tersebut hanyalah pintu masuk saja. Semua itu hanyalah syiar yang menciptakan daya magnet agar orang – orang terlepas dari atribut jahiliah dan tertarik pada atribut islami. Selanjutnya, mereka dibawa masuk untuk mendapatkan proses pembinaan, pencerahan dan pemahaman keislaman yang lebih intens. Jadi dakwah melalui seni berstatus sebagai dakwah ‘ammah dan harus tersambung dengan dakwah khos melalui ta’lim, tabligh, taushiah, mau’izhah hasanah dll. Kita harus bisa membedakan antara sarana dengan tujuan.
Jika mau diqiyaskan, situasinya sama dengan pintu – pintu keislaman yang dibuka lebar oleh rasulullah. Para shahabat masuk islam dengan beragam pintu. Ada yang tersentuh dengan kemuliaan akhlak, ada yang tergerak karena kedermawanan, ada yang terhubung karena jalinan pernikahan dan adapula yang masuk islam hanya karena ego kesukuan. Namun dari pintu manapun, mereka diajak masuk mengenal islam lebih jauh di madrasah Arqam bin Abil Arqam. Semakin banyak pintu dibuka, semakin banyak yang masuk islam. Tak peduli dari pintu mana masuknya, mereka akan segera menjalani proses kaderisasi sebagai kader dakwah, yakni dibentuk oleh rasulullah menjadi para dai dan mujahid.
Nada untuk Dakwah
Supaya ceramah menjadi menarik, banyak triks yang bisa digunakan oleh para mubaligh. Cerita humor, kisah hikmah, bahasa lokal dan rangkaian syair menjadi “ice breaker” yang efektif supaya jama’ah tidak mengantuk. Termasuk, para dai juga kadang mendendangkan sepotong syair dari sebuah lagu yang berhubungan dengan tema yang disampaikan. Jika dendangnya tanpa iringan musik, banyak pihak masih bisa menerima. Namun jika dendangnya diiringi dengan musik, disini mulai timbul pro dan kontra. Kita harus paham perkara ini, supaya kita lebih bijaksana dalam melangkah.
Dunia seni dan budaya dalam islam sebenarnya bukan barang baru. Ada musik gambus, hadrah, qashidah hingga nasyid. Perkembangannya cukup bagus, namun daya jangkaunya masih terbatas. Artinya, ragam kesenian tersebut memang dihadirkan bagi mereka yang sudah berada dalam lingkaran dakwah. Diluar itu, ada beberapa genre musik populer yang efektif untuk menarik kalangan ‘ammah yang belum tersentuh dakwah. Menggunakan jenis musik hadrah, qashidah dan nasyid, berarti kita sedang berdakwah kepada kalangan sendiri. Tetapi jika kita menggunakan jenis musik pop, dangdut, campursari dll, maka kita tengah berbicara tentang rekruitmen. Karena yang kita sapa adalah mereka yang masih diluar orbit dakwah.
Peluang dan tantangannya tentu sangat besar. Akan ada kegoncangan psikologis bagi sebagian kader dakwah, akan ada serangan dari musuh dakwah dan/atau kompetitornya, akan banyak jebakan dan perangkap yang dipasang untuk membunuh karakter dan menurunkan legitimasi. Belum lagi potensi terjadinya krisis identitas bagi para pelakunya. Jika yang terjun kedunia ini adalah “ordinary people”, mungkin “damage controll”nya masih mudah untuk dilokalisir. Namun jika yang menjadi aktornya adalah pribadi yang berkapasitas sebagai dai, ustadz dan kyai, urusannya memang jadi agak runyam.
Mengikuti konsep “hight risk, hight return”, pola ini layak untuk dicoba karena akan menghasilkan lompatan dan gelombang besar. Umumnya, orang lebih suka datang ke arena dangdutan ketimbang tabligh akbar. Dan panggung dangdut saat ini sudah masuk hingga ke relung masyarakat. Dengan sedikit kreatifitas, panggung hiburan ini bisa kita ubah menjadi panggung dakwah, yakni dakwah ‘ammah. Menyumbang lagu dengan sedikit prolog berupa nasehat dan pelajaran dari syair lagu yang dibawakan bisa menjadi metode alternatif. Ada panggung gratis yang tersedia (karena kita tidak perlu ikut menyewa sound system dan tratag, menyediakan snack, mengundang orang dll), tinggal mau kita gunakan atau tidak.
Sisi lain, ini cara mudah untuk mendongkrak popularitas seseorang. Pada setiap perhelatan pemilu dan pemilukada, kita selalu dipusingkan dengan popularitas dan elaktibilitas. Akibatnya, figur – figur selebriti nasional dan lokal menjadi etalase untuk menarik suara. Sebenarnya pola permainan bisa kita ubah, yakni menjadikan tokoh dan figur (kandidat pemimpin, caleg dll) menjadi selebriti yang mampu menjadi magnet suara. Harus diakui, kemampuan untuk berdendang seringkali jauh lebih dihargai ketimbang kemampuan untuk berbicara. Mau tidak mau, kita harus menambah polesan bagi calon publik figur yang akan diorbitkan, yakni kemampuan untuk menghibur dan berdendang. Ini memang benar – benar eranya pop culture.
Khatimah
Beberapa syair dari albumnya Rhoma Irama dan Ida Laela bisa kita gunakan untuk membuka pintu interaksi dengan pengemar dangdut, khususnya dangdut klasik. Lagu darah muda, shaleha, begadang, siksa kubur dll bahkan sering didendangkan beberapa kyai saat tampil diatas panggung dakwah. Mengingat dakwah harus menyapa semua kalangan, ada baiknya bagi para aktivis dakwah untuk menghafalkan beberapa syair lagu itu sebagai pegangan. Agar bisa digunakan dengan tepat dan bijaksana, saat kondisinya mengharuskan. Wallahu a’lam.
Eko Jun























![[VIDEO] Bincang-Bincang UAS dengan Rocky Gerung](https://www.palingbrilian.com/wp-content/uploads/2020/06/video-bincang-bincang-uas-dengan-218x150.jpg)
![[VIDEO] Teknik Hidroganik, Teknik Baru Budidaya Padi](https://www.palingbrilian.com/wp-content/uploads/2019/10/tani-218x150.jpg)
![[VIDEO] Waspada, Modus Pencurian Mobil saat Sopir Membuka Gerbang](https://www.palingbrilian.com/wp-content/uploads/2019/09/waspada-modus-pencurian-mobil-sa-218x150.jpg)
![[VIDEO] Belajar Matematika Pakai Hotwheels](https://www.palingbrilian.com/wp-content/uploads/2019/09/belajar-matematika-pakai-hotwhee-218x150.jpg)







