Kalau Cinta Umat Islam, Patuhi Protokol Kesehatan!

57

Oleh: Zico Alviandri.

Bukan lebay. Seorang penghafal Qur’an selalu memakai helm saat membawa motor, walau pun untuk jarak yang dekat, tidak sampai ke jalan besar hanya di kampung sekitar. Tak peduli dianggap aneh dan dikomentari tetangga.

Ada alasan tentunya. Karena di dalam kepala penghafal Qur’an telah terhimpun memori firman Allah swt yang mulia. Akan menjadi kehilangan yang sangat merugikan bila seorang hafizh jatuh dari motor, kepalanya terbentur, lalu mengalami masalah pada otak sehingga menghalanginya untuk menjaga hafalan.

Harusnya semangat itu ditiru oleh setiap aktifis dakwah, aktifis pengajian, penuntut ilmu, asatidz, orang yang memiliki ghiroh dengan Islam, bahkan semua muslim. Bukan soal selalu pakai helm. Konteksnya tentang ikhtiar menghindari penyakit yang sedang mewabah.
Saya hormat sangat kepada orang-orang yang punya semangat membela Islam. Saya ingin jasmani mereka selalu fit agar senantiasa siaga mengadvokasi umat. Saya harap napas mereka selalu bugar agar bisa melantunkan firman Allah swt. Saya mau kesadaran mereka terjaga agar bisa hadir ketika umat membutuhkan.

Baca juga  Nawaitu.. oh.. Nawaitu..

Saya sedih bila ada ustadz yang sakit bahkan wafat karena wabah ini. Tentu saya husnuzhon, mereka bukan orang yang takabur meremehkan mudhorot. Mereka paham sabda Rasulullah, “larilah dari penyakit kusta sebagaimana engkau lari dari singa” (HR Bukhari). Hanya saja takdir Allah menetapkan mereka terkena penyakit yang sedang marak itu.

Saya menyayangkan bila ada aktivis Islam yang meremehkan wabah ini, merasa tidak perlu ikhtiar menjaga protokol kesehatan. Saya tidak rela bila ia tertimpa mudhorot atas sikapnya sendiri. Juga sangat sedih bila dampaknya ia menularkan virus kepada orang yang lebih penting lagi kedudukannya di tengah umat.

Untuk pembaca semua, yang saya yakin memiliki semangat pembelaan kepada Islam, mohon renungkan. Bagi saya, Anda terlalu berharga untuk sakit terkena wabah. Saya masih ingin Anda bisa membaca Al-Qur’an seperti biasa tak terhalang napas yang sesak karena pneumonia.

Baca juga  Islam adalah Pencipta Kedamaian, Bukan Penebar Teror Kebencian

Lihatlah di sekitar, sudah banyak asatidz yang wafat. Banyak juga yang sedang sakit, untuk berapa lama harus absen mendidik umat.

Lihatlah, sudah sekian lama kajian harus ditiadakan. Kalau pun ada, diselenggarakan online. Tentu beda suasananya dibanding kajian dengan kehadiran fisik yang dekat. Sudah lama shaff di masjid renggang.

Mari mulai dari kita sendiri untuk disiplin menerapkan protokol kesehatan. Agar bisa tetap sholat malam, tetap membaca Al-Qur’an, tetap berdakwah, dan amal sholeh lain. Kemudian ajak orang lain untuk disiplin. Jangan malah iri melihat masyarakat yang menyepelekan 3M. Justru kita harusnya terdepan menyadarkan mereka.

Jangan sampai kelalaian kita menyebabkan ada aktifis Islam yang tertular, langsung atau tidak langsung. Badan kita mungkin kuat melawan virus, tapi tiap orang tak sama.
Anda punya teori tentang konspirasi? Simpan saja dulu. Menyelamatkan nyawa orang lebih diprioritaskan dari berbagai macam teori kecurigaan. Bebas sajalah Anda meragukan ini itu. Tapi cegah dulu lah wabah ini dengan sama-sama disiplin menerapkan protokol kesehatan.
Kalau Anda mencintai umat Islam, mari patuhi protokol kesehatan. Mari tiap kita berkontribusi menghentikan penyebaran Virus Corona.

Baca juga  Kisah Muallafnya Boss "Cintailah Ploduk-Ploduk Indonesia"

Comments

comments