Corona dan Sabda Rasulullah: Kalian Lebih Mengetahui Urusan Dunia Kalian

22

Oleh: Zico Alviandri.

Rasulullah pernah mendapat aduan dari para sahabat. Bukan masalah biasa, ini soal sabda beliau yang tak mendapat hasil seperti yang diharapkan meski telah dijalankan dengan taat. Kok bisa kata-kata Rasulullah tidak mujarab?

Sementara itu, sudah berapa banyak orang yang protes karena anjuran pengobatan yang diklaim berasal dari ajaran Islam tapi tidak ampuh. Nanti kita bahas dalam paragraf berikutnya, ada di mana masalahnya.

“Andai tidak kalian lakukan, itu mungkin lebih baik,” ujar beliau saw. ketika mengomentari cara penyerbukan kurma yang sedang dilakukan oleh para petani Madinah. Lantas, sebagaimana diceritakan dalam hadits riwayat Muslim nomor 2362, para sahabat meninggalkan metode yang telah dipraktekkan bertahun-tahun. Tentu dengan keyakinan bahwa ucapan Rasulullah akan mendatangkan manfaat yang lebih baik. Keyakinan yang tepat, dan jangan kita hilangkan hanya gara-gara kisah ini.

Beberapa lama kemudian saat musim panen tiba, pohon-pohon kurma milik petani Madinah yang mengikuti perkataan Rasulullah kala itu berbuah buruk atau berkurang buahnya. Maka tanpa meninggalkan sikap tunduk – tak seperti perilaku umat Nabi Musa a.s. ketika komplain – mereka datangi Rasulullah untuk berkonsultasi. Mengapa hasilnya tak sebagaimana yang diharapkan.

Lalu baginda pun bersabda, “Aku ini seorang manusia. Jika aku memerintahkan kalian dengan sesuatu dari agama kalian maka ambillah. Jika aku memerintahkan kalian dengan sesuatu berupa pendapat (ra’yu), maka aku hanyalah seorang manusia.”

Baca juga  Kisah Muallafnya Boss "Cintailah Ploduk-Ploduk Indonesia"

Dalam hadits Muslim lainnya nomor 2363 yang mengisahkan kejadian serupa, ada redaksi sabda Rasulullah yang cukup populer: Antum a’lamu bi umurid dunyakum. “Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.”

Tapi hadits ini jangan sampai dijadikan argumentasi bahwa Islam tidak mengatur urusan dunia. Ada banyak juga ayat Al Qur’an dan sunnah yang mengajari cara bermuamalah. Sehingga lahirlah sebuah ushul fiqh yang dirumuskan para ulama: Hukum asal dalam berbagai perjanjian dan muamalat (urusan antar manusia) adalah sah sampai adanya dalil yang menunjukkan kebatilan dan keharamannya.

Hadits di atas penting untuk diangkat lagi ketika wabah Corona yang sedang merebak di muka bumi, dan Indonesia sedang menghadapi penyebaran gelombang kedua. Intinya tentang urusan dunia – yang belum diatur oleh syariat – yang oleh Islam diserahkan kepada manusia yang mengetahui yang terbaik dengan ilmu pengetahuan dan riset.
Apa yang dilakukan oleh para ilmuwan dengan melakukan penelitian sampai menciptakan vaksin Corona tak bertentangan dengan sabda Rasulullah: “Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.”

Sementara itu yang tidak diatur oleh Islam, jangan dibuat-buat seolah ada aturannya.
Misalnya, Air Zam-Zam, Madu, Habatussauda, Qisthul Hindi dan sebagainya memang disebutkan dalam nash memiliki keampuhan dalam pengobatan dan juga keberkahan. Tapi tak ada larangannya juga untuk berobat dengan cara lain. Ingat, tak ada larangannya.
Lagian nash tidak menyebutkan bahwa bahan-bahan di atas adalah obat tunggal yang tak memerlukan obat lain untuk dikonsumsi. Artinya, tak salah meminum madu bersama obat dokter. Bahkan hanya memakai bahan farmasi buatan pabrik tanpa madu pun tak ada ulama yang menghukumi haram.

Baca juga  Pingin Hijrah dengan Menghapus Tatto? Simak Caranya

Maka bila ada yang mencela ikhtiar hanya karena ada yang memilih ventilator tanpa Qisthul Hindi, pertanda orang itu terlalu berlebihan. Ketika napas seorang penderita Corona sudah begitu susah, Oximeter menunjukkan angka yang kritis, maka pertolongan darurat yang harus dilakukan adalah memberinya alat bantu pernapasan. Begitu sesuai ilmu kedokteran.
Islam akan disalahkan bila ada yang memprotes cara ini lantas hanya menyarankan Qisthul Hindi hingga kemudian yang sedang darurat itu pun akhirnya wafat.

Jadi, masalahnya bukan pada ajaran Islam, tapi orang yang salah karena menginterprestasi berlebihan atas nash yang memberi petunjuk soal pengobatan.

Sejak awal wabah ini merebak sampai sekarang masih saja ada yang memberi saran seperti: Corona bisa dicegah dengan wudhu. Padahal banyak ulama dan orang-orang sholeh yang terkena wabah ini. Seolah-olah jutaan muslim yang pernah mengidap Corona itu orang yang meninggalkan wudhu.

Saran di atas juga berisiko ketika ada yang sudah mempraktikkan lantas masih terkena penyakit. Nanti yang digugat adalah Islam, bukan pemberi saran. Sepakat bahwa wudhu bisa membuat sehat. Tapi tak pernah menjadi penangkal virus. Rasulullah tak pernah berkata begitu, dan riset juga tidak pernah membuktikannya.

Baca juga  Adab Sebelum Ilmu

Islam bukan berarti tidak memberi cara mencegah wabah. Haditsnya sudah terkenal. “Kalau kalian mendengar ada wabah thaun di suatu negeri, janganlah kalian memasuki negeri tersebut. Namun, bila wabah thaun itu menyebar di negeri kalian, janganlah kalian keluar dari negeri kalian menghindar dari penyakit itu.” Begitu sabda Rasulullah dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim.

Tapi kenyataannya banyak umat Islam saat ini tidak mempraktekkan cara tersebut. Mereka santai saja memasuki daerah zona merah, atau yang dari zona merah keluar ke kota lain tanpa keadaan yang sangat mendesak.

Lalu tiba-tiba disodorkanlah saran yang sebenarnya Islam tidak mengajarkan itu: cegah Corona dengan wudhu, hanya berobat dengan Qisthul Hindi tanpa perlu obat lain, dan sebagainya.

Beberapa negara yang mayoritas dihuni non muslim sukses menghindari Corona dengan menerapkan lockdown yang merupakan ajaran Islam. Tapi tidak terdengar pujian bahwa Islam menjadi solusi yang sukses. Mirisnya, sebagian umat menyodorkan cara-cara yang tidak disebut Islam namun sekedar interprestasi mereka karena rasa bangga, lalu tak terbukti mencegah Corona. Bisa-bisa Islam yang dikambing hitamkan.

Comments

comments