BUKU TERLARANG: “Aku Bukan Penulis, Hanya Suka Menulis”

2494

Oleh: Ari Tri Wahyuni.

Bagi beberapa orang, kalimat itu terdengar seperti ungkapan pesimis. Tapi sebaliknya untukku. Kalimat pernyataan itu secara tak sadar membuatku semangat untuk menulis. Apapun bentuk tulisan itu. Aku tak ingin membatasi ruang gerak otakku. Kubiarkan ia menalar kemana ia suka. Mau buat puisi, cerpen, atau bahkan tulisan tak bernama. Karena aku memang bukan penulis. Aku hanya suka menulis. Jadi tak ada yang bisa memprotes tulisanku, karena ia ada tanpa aturan. Karena aku bukan penulis, aku hanya suka menulis.

Kau tau kenapa kata-kata itu bisa menyemangatiku? Gampang saja. Pernyataan itu tak membuatku terkungkung dalam beban untuk menulis sesuatu. Apalagi deadline. Saat kubaca sebuah even kepenulisan, pasti ia akan tersimpan di memory otakku. Tapi belum tentu ia bisa menyuruh otakku untuk bekerja. Bisa jadi ide itu datang kapan saja. Bisa sebelum atau setelah even itu terlaksana. Jika sebelum, berarti aku punya kesempatan untuk berpartisipasi, jika setelahnya, biarkan saja ia menambah jumlah file dalam folder di laptopku. Semua mengalir saja. Suatu saat hanya dalam beberapa menit duduk di depan laptop, bisa berlembar-lembar tulisan kubuat. Bisa jadi juga berjam-jam aku duduk di depan laptop tanpa satupun kata terketik. Karenanya aku bukanlah penulis. Aku hanya suka menulis. Kubiarkan saja otakku bekerja. Menangkap setiap lintasan yang datang, tanpa harus kupaksakan ia bekerja. Dengan begitu aku bisa menikmati saat-saat merangkai kata ketika menulis.

Sebuah prolog yang aneh. Tapi itulah adanya. Berbicara tentang kesukaanku menulis, berawal dari suatu kisah yang mungkin tidak banyak diketahui orang. Karena ada aib disana. Ada perasaan bersalah yang kusyukuri sampai saat ini. Karena tanpa penggalan kisah itu, mungkin aku tak akan suka menulis.

Berawal dari membongkar lemari buku di rumah. Jangan dibayangkan sebuah rak buku besar, karena keluargaku bukan keluarga penggemar buku. Ia hanya sebuah lemari kecil yang menjadi salah satu bagian pojok lemari buffet di ruang tamu rumah kami. Rupanya berisi buku-buku ‘jadul’. Ada buku pelajaran, ada buku tulis, ada sobekan-sobekan kertas, dan ada agenda kecil yang menggelitik untuk dibuka. Karena ada tulisan ‘Jangan Dibuka’ di sampul depan. Rupanya seperti buku diary sederhana. Seharusnya jangan dituliskan seperti itu, karena justru mengundang untuk dibuka. Tapi sekali lagi, itu adalah sebuah kenakalan yang kusyukuri. Buku-buku yang kutemukan termasuk agenda kecil itu, hampir semua bertuliskan nama panggilan kakak pertamaku di depannya. Dengan gaya tulisan khasnya.

Kubuka perlahan sambil lirik kiri kanan, khawatir ada mata yang mengamati atau tak sengaja melihat ulahku. Kubaca, kubalik, kubaca lagi, kubalik lagi. Ternyata perjalanan membaca buku terlarang (kusebut demikian karena tak ada hakku membacanya terkait tulisan di sampulnya) itu tak sekedar berakhir saat kututup pintu lemari. Kubawa diam-diam ke kamarku. Kusimpan di tempat teraman di kamarku. Kau tau berapa usiaku waktu itu? Aku lupa tepatnya, yang pasti aku masih mengenakan seragam merah putih di hari rabu dan kamis.

Ada saat ibuku masuk ke kamarku di malam hari. Memastikan aku tertidur lelap atau sekedar membetulkan selimutku. Seringkali momen itu berlalu dengan kebohonganku. Karena aku akan pura-pura tertidur lelap. Sebuah akting yang bagus, karena ibuku percaya. Dan bisa dipastikan setelah itu kamarku akan aman. Tak akan ada lagi gangguan seseorang masuk ke kamarku. Sesaat setelah momen itu berakhir dengan suara pintu kamar yang tertutup, aku akan menyingkap selimut, mengendap tanpa suara, mengeluarkan buku terlarang itu dari tempatnya. Lalu mulai membacanya. Rupanya bukan curhatan khas isi diary yang kutemukan di dalamnya. Hanya ada puisi, puisi, dan puisi. Setidaknya itu pengetahuanku akan tulisan yang ada di buku itu. Tak bosan kubaca isi buku itu.

Keesokan malamnya, kubuka lagi. Kubaca lagi tulisan-tulisan itu. Entahlah, otakku menyukai untuk terus membacanya. Bagitu terus sampai berbilang hari. Kubaca berkali-kali. Rupanya tanpa sadar otakku sedang belajar. Membacanya berulangkali untuk merekamnya. Merekam alurnya, diksinya, dan mulai mencari cara bagaimana kira-kira bisa membuat tulisan serupa. Tanpa sadar aku sedang belajar membuat puisi secara otodidak. Berguru pada buku terlarang itu.

Entah di bilangan hari keberapa, tak hanya otakku yang mulai bekerja di ‘ritual malam sebelum tidurku’. Tanganku tergelitik untuk mencoretkan sesuatu. Ketika tak kutemukan kata-kata indah menurut versiku, kubuka lagi buku terlarang itu. Lalu berbekal satu kata indah, kurangkai ia menjadi untaian kata indah. Terus begitu. Satu puisi tertulis meski belum orisinil, karena ada bait-bait contekan di dalamnya. Puisi kedua tertulis lumayan. Bait contekannya sudah mulai berkurang. Dan lama-lama aku bisa membuatnya tanpa bait contekan. Kupandangi maha karyaku sambil tersenyum. Ada kepuasan memandangnya. Jangan kau kira proses itu berjalan di malam yang sama. Baru bermalam-malam aku bisa menghasilkan puisi orisinilku sendiri.

Semenjak hari-hari itu, otakku dipenuhi dengan diksi-diksi. Setiap kudengar atau kubaca sebuah kata unik, pasti akan kucatat untuk kubuat untaian indahnya nanti malam di rumah. Sampai-sampai kubuka kamus bahasa inggris untuk sekedar mencari kosa kata baru yang jarang dipakai di bahasa sehari-hari. Aku benar-benar tergila-gila dengan puisi. Kubuat puisi dari nama-nama sahabatku. Hurufnya akan kupakai untuk mengawali kata dalam bait puisi yang kubuat. Lalu kusampaikan pada yang bersangkutan. Atau kalau tak ada keberanianku, cukup kubiarkan ia menghiasi buku kumpulan coretanku.

Tidak sampai di situ saja ceritaku. Seiring kegilaanku dengan puisi, aku mulai menuliskan suara hatiku lewat puisi. Sama persis seperti buku terlarang yang kutemukan dulu. Tapi tidak kutulis ‘Jangan Dibuka’ di depannya. Karena bisa saja orang berpikiran yang sama denganku saat itu. Kubiarkan saja sampul bukuku tak bernama. Toh kalau ada yang membukanya, ia harus berfikir untuk menafsirkan setiap kata dalam puisiku. Pekerjaan yang cukup rumit, namun belum tentu mendapatkan kesimpulan yang benar. Karena itu pula aku semakin menyukai puisi. Ia misterius. Tak ada orang yang salah dalam menafsirkan sebuah puisi. Karena ia memang bisa ditafsirkan dalam banyak makna. Bisa jadi sang pembaca menemukan penafsiran yang tak terfikirkan oleh sang penulis. Jadi hilang ketakutanku membayangkan orang tau apa isi hatiku. Menarik sekali hal ini dimataku.

Kesenanganku berlanjut. Sampai-sampai aku punya kebiasaan baru. Menuliskan ide-ide yang terlintas dimanapun. Bisa jadi di sobekan kertas. Di lembar terakhir buku pelajaranku. Di tangan. Atau dimana saja. Tak rela rasanya membiarkan lintasan fikiran itu berlalu tanpa sempat terekam. Karena bisa jadi aku akan lupa nanti. Sesampai dirumah, kusalin tulisan-tulisan itu di buku khusus yang sudah kusiapkan. Masih kusimpan rapi buku-buku itu sampai saat ini. Bahkan potongan-potongan kertas itu beberapa masih ada yang terselip di dalamnya.

Sekarang, tak ada lagi seragam berwarna khusus yang harus kupakai setiap hari. Sudah terlewati masa kupakai seragam warna putih biru. Seragam putih abu-abu juga sudah lama tak kukenakan lagi. Sudah sangat lama, apalagi terhitung sejak saat pertama kali kutemukan buku terlarang itu. Bahkan aku lupa dimana buku itu sekarang berada. Tak seharusnya ia kubiarkan begitu saja hilang. Seharusnya ia ada bersama tumpukan buku-buku coretanku. Karena ialah guruku.

Aku sudah punya HP sekarang. Aku juga punya laptop yang setia menemani. Jadi tak selalu di kertas atau di tangan kutuliskan lintasan fikiranku. Fitur note di HPku jadi sasaran tempat menyimpan ide-ide itu. Atau ketika mulai banyak jejaring sosial berkembang, kutulis saja ia di status atau quick note akunku. Ia akan menjadi tempat simpanan yang aman sampai aku bisa menyalinnya. Lintasan itu datang kapan saja tanpa terduga. Saat berdesakan di KRL ekonomi, saat duduk di angkot, saat kuliah, bahkan saat mandi. Ia akan kubuka lagi setiba di rumah, bisa juga setahun kemudian. Lalu mulai dikembangkan atau diperbaiki. Tak akan pernah kuhapus sebelum aku yakin sudah memindahkannya dengan aman. Karena ia aset berharga untukku.

Begitulah ceritaku. Beliau yang memiliki buku terlarang itulah inspirasiku. Tanpa sepengetahuannya, aku suka menulis sejak kutemukan bukunya. Sampai saat ini. Nanti akan kusampaikan terimakasihku padanya. Di saat yang tepat. Tapi ingat, sekali lagi aku bukan penulis, hanya orang yang suka menulis.

 

Lombok, 19032011, 21.02

Image Courtesy: www.wall321.com

Comments

comments