Majulah Perempuan Indonesia

547

Berbicara masalah perempuan, kita akan mengenal banyak sudut pandang dalam menempatkan peran dan kiprahnya. Pertama, perempuan dipandang hanya berkutat untuk mengurusi masalah domestik. Kita sangat akrab dengan istilah “dapur, sumur, kasur” untuk merujuk tugas yang diemban oleh perempuan. Pendefinisian seperti ini cenderung mengabaikan kemampuan, potensi dan energi yang dimiliki oleh perempuan.

Kedua, perempuan sebagai sarana eksploitasi. Mulai dari pelecehan seksual, perdagangan perempuan, pemandu lagu hingga sales promotion girl (SPG). Termasuk mengeksploitasi perempuan adalah menempatkan mereka sebagai tulang punggung utama dalam mencari nafkah keluarga. Pandangan seperti ini menempatkan perempuan sebagai objek yang dikuasai oleh pihak lain.

Ketiga, paham kebebasan perempuan yang diusung oleh gerakan – gerakan feminisme. Pola ini menjadi “gerakan pemberontakan” atas dominasi pria. Perempuan ingin tampil diruang publik secara massif, lepas dari kungkungan tradisi dan bebas mengekspresikan diri tanpa ada yang melarangnya. Sepintas pola ketiga ini mirip dengan pola kedua. Bedanya, pola ketiga adalah buah dari keinginan dan kesadaran internal, sedang pola kedua adalah akibat dari keterpaksaan dan tekanan eksternal.

Dalam posisi seperti ini, kita perlu mengambil jalan tengah dan moderat. Satu sisi, kita tetap harus menghargai potensi, energi dan kemampuan perempuan. Disisi lain, perempuan jangan keluar batas dari kodrat dan tanggungjawabnya yang mengurusi anak dan keluarganya. Inilah garis yang harus dipedomani oleh para perempuan modern di Indonesia. Perempuan Indonesia adalah sosok yang modern sekaligus menjaga tradisi.

Selamat Hari Kartini 2017

Eko Jun

Comments

comments