Kamera DSLR Buat Narsis Doang? Rugi!

3756

Di masa sekarang ini, kamera merupakan satu benda yang sangat akrab dan nyaris selalu hadir dalam setiap momen kehidupan manusia sehari-hari. Fungsi kamera tak lagi sekedar benda penangkap gambar, namun sudah bergeser menjadi bagian gaya hidup. Bahkan jadi cara bagi segelintir orang untuk menunjukkan status sosialnya.

Perilaku manusia sebagai objek fotografi pun sudah jauh berubah. Jika dulu, manusia berfoto sekedar untuk dokumentasi atau pun hanya medium penyimpan sejumput kenangan, di masa kini foto sudah menjadi semacam tolok ukur eksistensi manusia dengan adanya media sosial. Amatilah perilaku orang-orang masa kini dengan kameranya: Lihat pemandangan cakep pas liburan, foto dulu, share. Makan di restoran dan cafe yang lagi hits, foto dulu, share. Nongkrong sama temen gaul, foto dulu, share. Habis pipis di toilet mall, foto dulu, share. Lagijogging atau nge-gym, foto dulu, share. Pokoknya, setiap kejadian dalam keseharian, nggak afdol kalo nggak diabadikan dalam bentuk foto untuk dibagikan di media sosial. Hayo ngaku, siapa yang suka gitu?

Nah, untuk mengambil foto-foto itu ada beragam jenis kamera yang biasa digunakan. Mulai dari kamera handphone yang semakin hari semakin canggih, kamera saku, kamera prosumer, kamera DSLR, dan lain-lain (Ada jenis lain lagi gak? Hehe).

Di tulisan ini, saya cuma mau ngasih saran saja buat kamu yang berniat membeli kamera DSLR. Apalagi kamera DSLR bekas pakai. Mending batalkan niat kamu, jika kamera tersebut hanya ditujukan untuk mengambil foto narsis sama temen-temen, foto dokumentasi kegiatan atau seminar, atau foto-foto lainnya yang bisa dibilang tidak bernilai ekonomi. Terlebih jika kamu memang tidak punya basic skill fotografi, atau tidak berencana mendalami bidang fotografi.

Mengapa begitu? Karena eh karena… Setiap kamera DSLR mempunyai yang namanyashutter count. Apa itu shutter count? Penjelasan sederhananya, shutter count itu adalah masa pakai kamera DSLR yang dihitung dari sudah berapa kali kamera itu dipakai menjepret gambar. Untuk penjelasan yang lebih mendalam terkait shutter count kamu bisa googling. Nah, kalau masa pakainya sudah habis, maka kamera DSLR itu sudah tidak bisa digunakan lagi untuk mengambil gambar. Mungkin para fotografer profesional yang baca ini bisa membantu konfirmasi tentang perihal reset-mereset shutter count ini agar kameranya bisa dipakai kembali.

So, in my humble opinion (ceileeeh…), kalau kamu butuh kamera buat sekedar berfoto narsis dan happyhappy bareng temen dan keluarga, mending jangan menggunakan kamera DSLR. Kemahalan! Sebagai alternatif kamu bisa pilih kamera saku, atau prosumer yang lebih murah namun cukup bisa mendekati kualitas hasil foto kamera DSLR, atau cukup dengan kamera handphone yang kualitasnya tak kalah baik (plus aplikasi edit foto biar terlihat kinclong, hehe).

Kamera DSLR itu lebih cocok digunakan oleh mereka yang tergolong fotografer profesional, yang setiap lembar foto yang dihasilkan memiliki nilai jual, atau kalau pun belum profesional, setidaknya memang memiliki minat atau mau belajar fotografi lebih mendalam, bisa juga untuk jasa foto kawinan yang dibayar, untuk foto produk daganganonline shop, dan sebagainya yang bisa mendatangkan keuntungan.

Tapi pada akhirnya, semua terserah kamu juga sih. Kan kamu yang mau pakai, karena kamu yang punya duit. Aku mah apa atuh, cuma cowok kece yang hanya bisa nangis di pojokan karena shutter count kamera DSLR sudah habis akibat keseringan foto gak jelas T_T

AT Saputra

Comments

comments