Will Smith menampar Chris Rock, Kekerasan Verbal vs Kekerasan Fisik

52

Oleh: Dr. Indra Kusumah

Will Smith menampar Chris Rock di depan publik dikarenakan materi joke yang dilakukan Chris Rock terhadap istri Will Smith, Jada Pinket Smith. Publik pun terbelah ada yang bela Will Smith ada pula yang menganggap dia overreacted.

Perbuatan Will Smith menampar Chris Rock di sebuah acara yang ditayangkan secara internasional jelas termasuk kekerasan fisik.Namun, bercandaan Chris Rock terhadap istri Will Smith yang sedang berjuang dari penyakit alopecia yang dideritanya sehingga rambutnya rontok, pun menurut saya bisa termasuk kekerasan verbal.

“Hanya bercanda kok”. Terkadang kita dengar kalimat itu dari lisan pelaku bullying. Helloooo, bercanda itu jika masing-masing pihak senang. Contohnya cubitan istri ke suami yang disertai ketawa keduanya. Contoh lain ledekan antar teman yang masing-masing ketawa.

Baca juga  Benahi Moral, Bukan Mural

Candaan itu bisa menjadi bullying jika pihak yang dibercandai merasa tidak nyaman dan tidak senang, apalagi merasa terhina. Maka kita perlu berhati-hati saat bercanda.

Idealnya komik konfirmasi dulu ke pihak yang akan di-roasting di depan publik terkait materi roasting nya sehingga kejadian Chris Rock dan Will Smith tidak terjadi lagi. Setahu saya beberapa komik di Indonesia biasa melakukan itu. Bukankah demikian Bang Pandji Pragiwaksono? CMIIW

Menjadi komik tenar bukan alasan roasting orang lain seenaknya sampai ke hal sensitif terkait penyakit yang diderita. Menjadi artis tenar juga bukan alasan menampar orang di depan publik. Kita perlu belajar dari keduanya.

Kita perlu belajar empati agar tidak menjadi pelaku bullying dengan melatih merasakan apa yang orang lain rasakan jika kita mengatakan atau melakukan sesuatu kepadanya.

Baca juga  Waspadai Bahaya Lagu Despacito

Kita pun perlu belajar asertif agar tidak terus menerus menjadi korban bullying dengan belajar mengungkapkan ketidaksetujuan dan ketidaknyamanan kita atas perkataan atau perlakuan orang lain dengan cara yang baik.

Ya kita perlu terus belajar empati dan asertif. Kita: saya dan anda.

Comments

comments