Tentang Rindu

546

Oleh: AT Saputra

Sahabat, biar kuceritakan padamu tentang rinduku. Mungkin kau tak terlalu berhasrat untuk tahu. Tapi kali ini biarlah aku berkisah, mencoba mengikis lapisan kerak yang berkarat di benak. Ya, rindu itu telah menyesaki relung dadaku. Meraja di singgasana kalbu. Merampas kendali jiwa. Kemudian menjerumuskan aku ke dalam hari-hari penuh penantian yang membalut angan. Sangat menyiksa, namun juga bersepuh kemilau harap yang terkadang memantulkan seberkas sinar kebahagiaan.

Sahabat, bukankah engkau pun tahu? Sepanjang apa pun aliran sebuah sungai, ujungnya pasti ke laut. Meski alirannya penuh kelok nan berliku. Dari tinggi pegunungan menembus sunyi belantara hutan, melewati riuhnya perkampungan atau sepinya tanah tak bertuan. Pada akhirnya, riak arus sungai itu akan terhenti pada sebuah muara, lantas bersua dengan samudera. Begitu juga rindu ini. Rindu yang membebaniku siang dan malam, pun pagi dan petang. Rindu yang telah melarutkan aku dalam penantian maha panjang. Yah, tentu saja aliran sungai penantian ini akan menemui muaranya. Muara kerinduan ini adalah pulang.

Sahabat, aku akan segera pulang! Kau dengar itu? Aku akan pulang! Hatiku tiba-tiba diliputi binar-binar rasa yang tak terlukiskan. Berkelap-kelip bagai cahaya kunang-kunang. Entahlah, aku merasa seolah-olah akan menceburkan diri dalam samudera kebahagiaan, tenggelam dalam hangatnya cinta. Di pelupuk mata ini, elok kampung sudah terbayang. Hilir-mudik seiring wajah orang-orang tersayang. Tak lama lagi, kan kutukar perih rindu ini dengan hangatnya perjumpaan. Mengikat ulang simpul hubungan hati yang terpaut jarak, waktu dan keadaan. Lalu, kuhanyutkan diri di gelombang nostalgia. Ah, Sahabat! Pulang memang satu-satunya penawar rindu.

Comments

comments