Sang Jenderal dan Sang Ulama

Saya pun terisak menahan air mata menyaksikan secara live visualisasi dialog seorang ulama dan calon pemimpin negeri yang selama ini hanya saya baca melalui literatur-literatur klasik saja. Seolah waktu diputar mundur dan saya hidup sekurun Imam Al-Ghazali yang sampai dipaksa-paksa penguasa untuk jadi Qadhi tapi tetap menolak.

Menariknya lagi, ulama yang fisiknya kurus kerempeng berpenampilan sangat sederhana itu bisa mendongakkan kepalanya penuh izzah menasehati sang jenderal yang ada dihadapannya dengan lugas, tegas dan bernas. Tampak tak ada sedikitpun kecanggungan apalagi akting yang dibuat-buat.

Nampak sekali sang jenderal gagah itu bukan seperti majikan atau tuan besarnya, tapi lebih terlihat seperti murid kecil di hadapan sang guru agung.

Tetiba suara gelegar sang jenderal itu lenyap ditelan senyap, berganti bisikan lembut merajut berharap seuntai nasehat.

Baca juga  Pemilu Era Big Data

“Berbuat adillah anda. Di hadapan anda ada keranjang yang berisi pisau, buah, pena dan bunga. Berikan pisau kepada anak muda supaya dia gunakan berburu, berikan buah kepada anak-anak supaya berbadan sehat, berikan pena kepada para ulama supaya mereka gunaka menulis kebenaran dan berikan bunga kepada wanita supaya berikan cinta kepada suami dan anak-anaknya. Itulah adil..”

Begitu kurang lebih analogi yang di buatnya menjadikan sang jendral nan gagah dengan suara khasnya yang menggelegar itu tertunduk khusyuk bahkan berurai air mata.

“Tolong kalau bapak jadi presiden jangan undang saya ke istana dan jangan jadikan saya pejabat, biarlah saya keluar masuk hutan untuk berdakwah…”

Itu bagi saya adalah kalimat dahsyat di zaman ‘matre’ sekarang ini, di mana semua serba transaksional bahkan ditengah santernya pemberitaan para pelacur jabatan itu. Mereka menghalalkan segala cara, meng’amplopi’ semua yang bisa di ‘amplopi’ (meminjam istilah Gus Mus). Tapi uniknya sang ulama viral ini lebih memilih bertransaksi dengan Rabbnya, bahkan sejak ijtima’ ulama pertama yang merekomendasikan sang jenderal dengan beliau ini. Sehingga bagi saya, ini adalah oase di tengah kegersangan suhu politik yang begitu memanas. Bahkan di tengah hebohnya berita kecurangan pencoblosan oleh para pengemis jabatan yang terjadi di negeri upin-upin pada hari ini juga.

Baca juga  Inilah Arti Sentuhan Tangan Ustadz Abdul Somad di Dada Prabowo

Karena itu saya sangat berterimakasih kepada sang ulama satu ini yang telah memberikan pelajaran begitu dalam, bahwa jabatan, kedudukan dan dunia tidak akan memberikan makna apapun kecuali jika digunakan untuk menolong agama Allah.

Sang ulama tenar ini memberikan optimisme di ujung kegelisahan saya, bahwa negeri ini akan bisa bangkit kembali bila semua memberi kontribusi sesuai dengan kapasitas masing-masing.

Dalam kitab Nashaihul Ibad. Imam Nawawi sang Ulama asal Banten yang mendunia itu berkata:

قوام الدنيا بأربعة أشياء : علم العلماء , وعدل الأمراء , وسخاء الأغنياء , ودعاء الفقراء

Pilar tegaknya dunia itu dengan empat hal :

1. Ilmunya para Ulama
2. Keadilan para Penguasa
3. Kedermawanan orang2 kaya
4. Doa orang2 miskin

Baca juga  Momentum Ustadz Abdul Somad

Terimakasih Ustadz Abdul Somad dan terimakasih Jenderal atas pencerahannya hari ini.

Izinkan dengan iman yang masih compang-camping ini saya mencintai negeri ini

Akhukum Fillah

Khoirul Muttaqin

BAGIKAN