Sahur.. Sahur..

270

Selain takbir keliling dan mudik, di antara tradisi khas di Indonesia adalah membangunkan sahur dengan berkeliling lingkungan. Sekelompok remaja tanggung berkeliling kampung sambil membunyikan bedug. Entah sejak kapan tradisi ini dimulai, entah bagaimana asal-usul tradisi ini. Meski di telinga terdengar berisik, tapi tak ada satupun warga yang protes atau merasa terganggu. Alhasil, membangunkan sahur dengan cara ini sudah diterima dan diakui sebagai salah satu kearifan lokal di bulan Ramadhan.

Pada masa Rasulullah SAW, tentu saja tidak ada tradisi seperti ini. Tidak ada satupun riwayat tentang cara membangunkan sahur. Hal ini bisa dimaklumi, mengingat makan sahur itu diakhirkan jelang shalat subuh. Artinya, pada masa itu kaum muslimin memang dalam sudah posisi terjaga karena baru saja melaksanakan shalat malam. Sedangkan di masa sekarang, melaksanakan shalat malam seringkali terbatas pada golongan tertentu saja. Jadi, membangunkan sahur dengan cara ini dirasa cukup efektif.

Baca juga  Tambahkan Kesenanganmu Bersama-Nya

Sebenarnya, beberapa masjid juga menyerukan kaum muslimin untuk bangun sahur melalui speaker. Namun, bagi sebagian orang seruan itu terdengar seperti tarhim saja. Maksudnya, sebagian besar telinga seringkali tidak meresponnya. Sedangkan membangunkan sahur dengan menabuh bedug keliling kampung, suasana syiar Ramadhannya sangat terasa. Kalau rombongan mereka sudah lewat tapi sampai telinga tidak mendengar, itu sih kebangetan banget.

Dulu waktu kami kecil, rombongan seperti ini hanya punya satu lagu dan satu irama. Sekedar bilang “Sahur, Sahur”. Sudah, begitu saja yang dilafalkan sepanjang jalan. Tapi sekarang, mungkin jadi agak gaul. Beberapa lagu pop malah ikut dinyanyikan oleh mereka. Wah, jadi ingat demo buruh beberapa waktu lalu. Lagu perjuangan buruh juga sekarang banyak yang berirama ska. Lain banget dengan lagu – lagunya mereka yang kami kenal pas jaman kuliah. Hehe..

Baca juga  Tentukan Titik Akhirmu

Eko Jun

BAGIKAN