Demang Lehman, Sang Pejuang yang Melawan Penjajah Belanda Sampai Titik Darah Penghabisan

69

Demang Lehman adalah seorang Panglima Kesultanan Banjar, beliau adalah salah satu orang kepercayaan dari Sultan Hidayatullah dan terus berjuang di sisi beliau sampai akhir hayat.

Beliau adalah salah satu Kiai yaitu pimpinan lalawangan Riam Kanan. Lalawangan adalah daerah bagian yang ada dikesultanan Banjar. Sekarang bisa disebut sebagai kabupaten.
Beliau dikenal orang yang sangat sakti mandraguna, beliau adalah orang yang sangat ditakuti belanda. Beberapa siasat licik untuk membunuh demang lehman selalu gagal.

Sampai pada akhirnya beliau ditangkap dengan cara disekap saat beliau selesai sholat subuh disebuah surau dan tanpa membawa senjata apapun.

Pemerintah Belanda menetapkan hukuman gantung terhadap pejuang yang tidak kenal kompromi ini. Dia menjalani hukuman gantung sampai mati di Martapura, sebagai pelaksanaan keputusan Pengadilan Militer Belanda tanggal 27 Februari 1864.

Baca juga  Dāruşşifā: Rumah Sakit berbasis Wakaf Penemu Vaksin Cacar Era Turki Utsmani

Pejabat-pejabat militer Belanda yang menyaksikan hukuman gantung ini merasa kagum dengan ketabahannya menaiki tiang gantungan tanpa mata ditutup. Urat mukanya tidak berubah menunjukkan ketabahan yang luar biasa.

Tiada ada satu keluarganya pun yang menyaksikannya dan tidak ada keluarga yang menyambut mayatnya. Setelah selesai digantung dan mati, kepalanya dipotong oleh Belanda dan dibawa oleh Konservator Rijksmuseum van Volkenkunde Leiden.

Kepala Demang Lehman disimpan di Museum Leiden di Negeri Belanda, sehingga mayatnya dimakamkan tanpa kepala.

Sebelum digantung beliau berteriak keras :
“Dengar-dengar barataan! Banua Banjar lamun kahada lakas dipalas lawan banyu mata darah, marikit dipingkuti Walanda!”

Comments

comments