Tips Sederhana Mengenali Berita Sampah

390

Selama kampanye politik, hoax dan berita sampah akan semakin masif, hanya membuat anda kehilangan waktu produktif dan paket internet, dan agar kita tidak terjebak dalam pembentukkan opini yg salah, ikuti tips berikut.

Tips ini ditulis oleh Wartawan Senior Kafil Yamin.

Berita bersliweran. Banyak di antaranya berita bohong, fitnah, plintiran. Pastikan kita bukan bagian dari penyebarnya. Bagaima kita tahu bahwa suatu berita tidak benar? Atau paling tidak meragukan?

Berikut ini beberapa tip sederhana. Ini bukan hasil riset ilmiah, hanya kristalisasi pengalamanan dan instink kewartawanan.

PERTAMA, simak judulnya:
Apakah judulnya bombastis? Alias lebai? Menggunakan kata-kata provokatif? Bila jawabannya iya, segeralah ragukan.

Judul berita yang benar biasanya datar dan adem.
Misalnya: “Presiden Jokowi menyatakan Arab Saudi setuju penambahan kuota haji”.
Kalau di media penghasut dan penjilat judul akan berbunyi: “Luar biasa! Presiden Jokowi berhasil menekan Arab Saudi menambah kuota haji. Arab Saudi tak berkutik.”
contoh lain: “Tamparan keras untuk Aa Gym dan Arifin Ilham“. Atau “Ucapan keras Rais Syuriah NU bungkam Aa Gym dan Arifin Ilham”.
Kata-kata ‘tamparan keras’ dan ‘ucapan keras’ serta ‘bungkam’ itu karangan si editor yang ingin beritanya mengundang perhatian, dengan cara tidak halal. Maka sudah pasti beritanya tak menarik.
Judul yang bener: “Rais Syuriah PBNU menyatakan NU tidak dalam posisi mendukung atau menghalangi non-Muslim jadi pemimpin”.
Di dalam isi berita, dan dalam seluruh pernyataannya, Rois Syuriah sama sekali tak menyebut-sebut nama Aa Gym dan Arifin Ilham. Tapi si penyunting ingin berita tengil jadi menarik, maka ditempelkanlah nama Aa Gym dan Arifin Ilham, pake kata ‘tamparan keras’ dan ‘bungkam’.

Baca juga  Sari Roti, Klarifikasi Berujung Kontroversi

Ada juga pola pembuatan judul yang dimulai dengan ‘Inilah’ tambah subjek plus kata ‘dahsyat’ misalnya: “Inilah jawaban dahsyat Ahok kepada Tri Rismaharani”;” Inilah tanggapan dashyat Menteri Susi Pudjiastuti Kepada Ratna Sarumpaet.”
Isinya cuma pernyataan biasa. Boro-boro dahsyat.

Katakanlah Saya bertemu seorang kenalan di jalan, dan kenalan itu menyapa saya: “Hey! Apa kabar?” Dan saya jawab: “Alhamdulilah. Saya baik-baik saja.” Bila pertemuan dan dialog singkat ini diliput media tengil/penghasut sejenis di atas, mereka akan kasih judul: “Inilah jawaban dahsyat Kafil Yamin yang membungkam seorang penanya” — kalau media itu menyukai saya.

Ada lagi pola gaya pembuatan judul yang dimulai dengan “Wow!” atau “Menakjubkan!” “Luar biasa!” , “Mantap!”.
Kalau berita negatif, kata serunya “Parah!” “Astaghfirullah! ” Saya jamin deh, setelah dibaca, boro-boro menakjubkan. Justru membosankan. Garing.

KEDUA, simak. Apa judulnya masuk akal? Kalau tidak, abaikan. misalnya : ” Mantap, Masyarakat NTT Siap Bumi Hanguskan FPI Sampai Habis.”
Setelah dibaca, tidak ada pernyataan dari ormas, kelompok dan paguyuban apapun di NTT. Tidak ada persiapan fisik apa pun. Ternyata berita itu hanya mengutip sebuah status FB bernama Lasiga Pedroes.

Baca juga  Janet Tidak Merayakan Christmas

Tidak masuk akal ormas di NTT bisa membumihanguskan sebuah organisasi berlevel nasional. Lebih tidak masuk akal lagi seorang pemegang akun FB bisa mengatasnamakan satu provinsi NTT.

KETIGA, baca paragraf pertama dan kedua saja. Jika tidak ada kutipan, rujukan kepada sumber berita, sudah pasti itu kalimat si wartawan atau editor yang sedang mengungkapkan pikiran subjektifnya, atau hawanafsunya. Abaikan.

KEEMPAT, ‘baca’ konteks beritanya. Bila lebih merupakan reaksi terhadap suatu tindakan atau sikap objek berita, segeralah ragukan keabsahan informasinya.
Tanpa ujung pangkal, berita tentang dugaan penyalahgunaan dana MUI bermunculan sekarang, setelah MUI memfatwakan omongan Ahok menistakan agama. Pasti itu bukan berita. Itu serangan. Pasti nyari-nyari kesalahan. Kalau tidak ketemu, harus ada. Maka kasus dua tiga dekade lalu pun dimunculkan lagi.

KELIMA, penggunaan kata kerja pasif.

Dianggap menebar kebencian, MUI terancam dibubarkan.
Kalau judul atau kalimat sudah banyak kata pasifnya: ‘dianggap’, ‘diduga’. ‘ditenggarai’, segeralah ragukan.

Kata kerja pasif adalah alat wartawan, editor untuk bersembunyi dari tanggung jawab. “Si A diduga korupsi.” Dia memang tak menuduh, karena toh ‘diduga’. Tapi coba tanyakan siapa yang menduga, jawabanya akan ngarang. MUI dianggap menebar kebencian. Dianggap oleh siapa?

Baca juga  Remaja Palestina: "Aku Melihat Surga"

KEENAM, perhatikan kredibilitas narasumber. Pastikan yang ngomong dan dikutip adalah orang yang layak untuk ngomong tentang isu yang ditanyakan, dalam posisi dan wawasan pengetahuan.
Bila berita dugaan korupsi di MUI bersumber dari omongan seorang pengunjung setia diskotek, tukang mesum, jauh dari agama, ragukan.

Oh ada kutipan dari sebuah LSM. Tapi sekarang satu orang pengangguran bisa bikin LSM. Tak perlu kantor. Bikin saja situs gratisan, lalu bikin pernyataan yang keras-keras, hasutan, nanti ada yang mengutip.

Nah, kalau sudah tahu suatu berita tidak benar. Berita sampah. Jangan lantas disebar-sebar. meski pakai pengantar: “Fitnah nih…” Itu bodoh.

Demikian, semoga bermanfaat.

VIAIrfan Aulia
BAGIKAN