Air Mata Buaya

1743

Oleh: Syaefudin 

‘Air mata buaya’ lebih dikenal sebagai ungkapan bagi tangisan orang yang berpura-pura sedih dan iba; ia tergugu dan tersedu haru, padahal di dalam hati bisa jadi tertawa. Namun, apakah air mata buaya itu benar-benar ada? Jika ada, bagaimana binatang buas itu meneteskan air mata dan kenapa dijadikan amsal bagi tangis si pendusta?

Dari Fiksi, Peneliti Mencari Bukti

Sejak beratus tahun lalu, tangisan tak tulus dari seseorang yang hanya menginginkan simpati dan belas kasih orang lain sering disebut air mata buaya. Ungkapan ini didasarkan pada anggapan bahwa buaya seringkali meneteskan air mata saat melahap mangsanya. Konon katanya, buaya menyesal dan menangis tersedu-sedu lantaran mangsanya telah mati. Meski demikian, buaya tetap saja makan dengan sangat rakus dan lahap. Apakah benar demikian? Dari siapa dan kapan ungkapan ini bermula?

Ken Vliet dari University of Florida (UF) dan D. Malcolm Shaner dari University of California Los Angeles (UCLA) adalah dua dari sedikit ilmuwan yang tertarik mengungkap sumber asli sebutan ‘air mata buaya’. Mereka mencari sumber bacaan tentang tiga kata tersebut dan mendapati bahwa ‘air mata buaya’ kemungkinan dipopulerkan pertama kali melalui sebuah buku cerita berjudul “The Voyage and Travel of Sir John Mandeville”. Pada buku yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1400 ini tertulis “…di negeri tersebut terdapat banyak buaya….makhluk licik ini memangsa manusia dan mereka memakannya sambil menangis…”.

Shaner dan Vliet juga menemukan tulisan ilmiah tentang tangisan buaya. Tulisan tersebut menjelaskan seorang peneliti yang ingin membuktikan keberadaan air mata buaya, apakah ada atau sekedar mitos? Untuk melangsungkan maksudnya, peneliti tersebut memoleskan bawang dan garam ke mata buaya. Jika buaya-buaya tersebut tidak menangis, sang ilmuwan akan menyimpulkan bahwa air mata buaya hanyalah mitos. Bagi Shaner, pendapat ilmuwan ini membingungkan dan bertolak-belakang dengan kebiasaan. “Masalah dalam penelitian tersebut adalah ia tidak menguji hewan-hewan tersebut saat mereka sedang makan. Ia hanya meletakkan bawang dan garam di mata mereka”, jelas Shaner.

Oleh sebab itu, Vliet mencoba sendiri untuk mengamati perilaku ‘tangisan’ buaya. Ia memberikan umpan kepada alligator dan caiman – binatang sebangsa buaya. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa lima dari tujuh binatang sedang memakan umpan ternyata mengeluarkan air mata alias ‘menangis’. Bahkan, di sudut mata alligator dan caiman muncul cairan ‘bening’ berbusa-busa tanda benar-benar mengalirkan air mata.

Kenapa Buaya ‘Menangis’? Masih Misteri

Meski air mata buaya terbukti ada, sampai saat ini ilmuwan belum bisa memastikan alasan dan proses keluarnya benda cair dan bening tersebut dari mata buaya saat mereka makan. Para peneliti belum menemukan jawaban ilmiah, apakah buaya menangis karena senang mendapat makanan, atau sekedar ‘drama’ sedih setelah mangsanya mati tercabik-cabik?

Beberapa dugaan pun muncul dari berbagai pakar. Sebagai contoh, Vliet – seorang zoologis – berpendapat bahwa air mata tersebut keluar sebagai reaksi normal ketika makan, layaknya seekor hewan pemakan daging yang mendesis dan terengah-engah saat menyantap buruan. Udara memaksa keluar melalui sinus lalu bercampur dengan air mata di dalam lakrimal buaya, atau kelenjar air mata yang menjadi kosong setelah isinya tumpah ke mata. Dugaan lain disampaikan oleh seorang ahli buaya, Britton, yang berpikir bahwa air mata buaya keluar karena adanya gerakan otot rahang saat mencabik dan merobek makanan. Kegiatan memangsa seperti ini menyebabkan air mata keluar dari kelenjar lakrimal.

Di balik usaha para ilmuwan menyingkap rahasia fenomena alam berupa ‘tangisan’ buaya, kita disadarkan dengan masih terbatasnya kemampuan manusia. Sungguhpun hanya benda sederhana dan bahkan sering diremehkan, air mata yang muncul ketika makan jelas bukan perkara sepele bagi buaya. Air mata buaya adalah gubahan Allah, dan tak mungkin Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui membuat sesuatu dengan tanpa tujuan. Semoga, kita tergolong sebagai makhluk yang senantiasa memerhatikan ciptaan-Nya, yang terbentang luas tak terbatas di alam raya. Dengan demikian, bertambah lah keimanan kita kepada Allah.

Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?” (TQS. Adz-Dzariyat 51: 20-21)

Penulis adalah staf pengajar di Departemen Biokimia, Fakultas Matematika dan IPA, Institut Pertanian Bogor. Penulis bukan buaya ‘beneran’, apalagi ‘buaya darat’

Dipublikasikan juga di: https://syaefudin097.wordpress.com/2016/12/13/air-mata-buaya/

Comments

comments