Tambahkan Kesenanganmu Bersama-Nya

72

Catatan Ramadhan

Hari kedua Ramadhan terngiang sebuah ayat yang masyhur di telinga kebanyakan orang islam, “Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atasmu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.”

Ramadhan adalah puasa, dan puasa menjadikan bertakwa. Setiap tahun berpuasa maka setiap tahun pula bertakwa. Tambah takwanya seiring dengan berulangnya puasa.

Jika takwa secara mudah diterjemahkan dengan “Melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya”, maka setiap tahun kita akan makin baik melakukan amal. Jika bertambahnya takwa dimaknai dengan bertambahnya kebaikan dan bertambahnya keburukan yang hilang, maka mari kita berhitung, sudah berapa kalikah puasa ramadhan itu berulang dalam umur dan hidup kita?

Seseorang yang berusia 42 tahun dan mengalami aqil balligh saat usia 17 tahun, berarti saat ini dia sudah memasuki puasa ramadhan yang ke 25 dalam hidupnya (42 – 17). Jika setiap kali puasa ramadhan bertambah satu kebaikan yang belum pernah dilakukan sebelumnya dan bertambah satu keburukan yang hilang dari dirinya yang masih dilakukan sebelumnya, maka seharusnya di puasa ramadhan tahun ini sudah ada 24 kebaikan baru yang bertambah pada dirinya dan ada 24 keburukan yang sudah hilang juga dari dirinya, dan tahun ini akan bertambah lagi satu kebaikan baru yang dilakukannya hingga menjadi 25, serta hilang satu lagi keburukan dari dirinya hingga berjumlah 25.

Pertanyaan terbesarnya adalah, sudahkah kebaikan yang bertambah dan keburukan yang hilang itu berjumlah sama dengan pengulangan puasa ramadhan dalam hidupnya hingga saat ini?

Jika sama jumlahnya, maka bersyukurlah dan terus tambahkan, tapi jika kurang jumlahnya berarti ada takwa yang tak kita dapatkan di antara puasa ramadhan yang pernah kita jalani itu dan itu bermakna bahwa puasa ramadhan kita under perform (di bawah standar performa) hingga tak berbuah takwa.

Jika takwa itu menjadikan kita semakin baik; semakin ingin dekat dengan Allah; semakin betah berlama-lama ‘bersama’ Allah; dan semakin senang menanti pertemuan dengan Allah, maka mari kita bertanya, “Sudahkah kita memiliki ciri-ciri tersebut dan memiliki semua rasa itu?”

إِنَّ لِلصَّائِمِ فَرْحَتَيْنِ إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ اللَّهَ فَرِحَ

Bagi seorang yang berpuasa, maka baginya ada dua kebahagiaan, yaitu; kebahagiaan saat ia berbuka dan ketika ia berjumpa dengan Allah.
(HR. Muslim)

Maka mari kita berhitung di hari ini untuk diri kita ke depannya, hingga jangan sampai ada lagi puasa ramadhan kita yang under perform, tak mencapai takwa.

#catatanharianramadhan
Arsal Sjah