Seuntai Harap Untukmu Tuan

347

Tuan, ada yang tanya padaku kemana permata pergi menghilang?

Kujawab, ia masih ada namun jauh tersimpan dalam laut yang paling dalam.

Tuan, ada yang tanya padaku kenapa terasa ada hawa panas terbias dimana-mana?

Kujawab, karena kami tak kenal lelah dan tak kenal henti dalam bekerja.

Tuan, ada yang tanya padaku kenapa hingar bingar disana?

Kujawab itu tidak seberapa hanya sedikit dinamika.

Tuan, ada yang tanya padaku apakah kalian masih bersama?

Kujawab, iya kami akan tetap selalu bersama mengusung tujuan yang sama meski tak selalu ditempat yang sama, meski tak seiya sekata.

Deg.. (bunyi hentakan dalam dada)

Duhai tuan, ia mengerling menatap mataku dalam. Aku hanya tersenyum pahit dalam diam.

Tuan, entah berapa pertanyaan lagi yang tersisa. Berpuluh, beratus, atau bahkan beribu tanya lagi yang menanti jawabnya.

Tuan, banyak mata memandang kita, mereka mencium aroma sekam terbakar di dalamnya.

Tuan, dalam diam aku selalu bertanya kapan datangnya sejuk pengusir gerah. Adakah engkau juga  merasakan gerah?

Tuan, dalam tafakur hatiku gundah, apakah gerangan yang membuat dirimu tak sanggup hadirkan sejuk dalam resah.

Tuan, berapa lama lagi kita begini? Tidakkah engkau melihat kelengasan udara disekitar kita semakin menjadi?

Wahai tuan bijak bestari, harap tuan segera akhiri, hawa kelengasan usirlah pergi. Siapapun tak boleh tersakiti apalagi memilu hati.

Usirlah segala kelengasan di dalam hati yang membuat kita jadi begini.

 

Beni Sumarlin,

Bengkulu 5/8/2016.

BAGIKAN