Menjadi Orangtua Terbaik bersama Ust. M. Iwan Januar

921

FGD 1 – Grup WhatsApp TEP IPB 39
Senin, 2 Februari 2015 | 21.00 – 22.17

Topik                      : Menjadi Orangtua Terbaik

Narasumber         : Ust. M. Iwan Januar (www.iwanjanuar.com)

 

 

-START-

Ayah Bunda yang dimuliakan Allah… Satu hal yang kita harus evaluasi dalam perjalanan keluarga kita adalah : sadarkah kita bahwa menjadi orangtua adalah PILIHAN, bukan kebetulan..?

Karena menjadi orang tua adalah pilihan, semestinya sejak awal kita sudah mempersiapkan diri untuk menjadi SEBAIK-BAIK ayah dan bunda. Yakni orangtua yang PAHAM akan KEBUTUHAN anak-anak kita, serta KEWAJIBAN kita sebagai orang tua.

Sayang banyak pasangan suami-istri yang berpikir bahwa menjadi orang tua adalah SESUATU YANG OTOMATIS.

Atau ada sebagian ortu yang mengikuti mainstream pengasuhan anak, tanpa mau melihat bagaimana Allah SWT. sudah menjelaskan hal ini.

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.

Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

( Al-Israa’ : 36 )

Ayat di atas menjadi pengingat kita bahwa Islam mewajibkan kita untuk menjalankan tugas dalam kehidupan ini bukan mengikuti arus, tapi harus mengikuti tuntunan dien ini.

Ada beberapa hal yang bisa saya sharing dalam forum ini;

  1. Jadikan Islam sebagai perspektif kita dalam menjalankan peran sebagai ortu. Yaitu menjadi ortu adalah amal sholih untuk meraih ridloNya.

Mengapa poin pertama ini mnjadi urgen? Karena akan mndorong kita ikhlas dan senang hati mnjalankan peran sbgai ayahbunda. Bahkan tanpa pamrih apapun dari anak2 kita kelak. Termasuk akn membuat kita menerima keadaan anak2 kita apa adanya tanpa rasa kecewa. Karena bisa jadi Allah menguji diri ini lewat keadaan anak2 kita.

  1. Miliki standar dan tata nilai yang sama dan benar bersama pasangan dalam pengasuhan anak

Kenapa? Karena tata nilai yang berbeda sungguh akan menyulitkan kita dlm pengasuhan anak.

Apa standar itu? Tentu hanya ajaran Islam.

Janganlah kita merasa sudah benar mnjalankan peran sebagai ayah dan bunda tanpa meletakkannya dalam timbangan syariat Allah. Apakah peran kita sebagai ayah dan bunda sudah sesuai petunjukNya ataukah belum.

Mungkin ini sebagai pembuka acara sharing kita malam ini. Mohon maaf bila ada kekurangan.

 

TANYA :

  1. Pembentukan karakter pada anak dimulai sejak kapan? Karena dari artikel2 berbeda2 ada yamg bilang dari masuk sekolah, dari lahir, periode 1-2 tahun, saat mencari/memilih ibu/bapaknya?
    (ayah Basuki S. Graha)

JAWAB :
Saya jawab dulu ya, ayah Basuki?

Bila kita merujuk pada poin pertama pembahasan saya, semoga Allah ampuni kesalahan saya, maka proses pembentukan karakter anak tentu dimulai pada saat kita memilih pasangan.

Ada satu pesan Umar bin Khaththab “tunaikanlah hak anak-anakmu sebelum mereka lahir!” Ketika orang-orang bertanya bagaimana caranya, “Pilihkanlah ibu yang terbaik untuk mereka!”

Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah

tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya.

Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.
( Al-Baqarah : 223 )

 

Ayat di atas mengajarkan kita bahwa peran ayah dan bunda amat penting, laksana petani dan ladang. Petani yang baik baru bisa bercocok tanam dengan baik bila ladangnya pun tanah yang baik, unsur hara-nya baik.

TANYA :
Dengan cara bagaimana agar anak paham jika ayahnya sangat sayang sama putrinya ini karena selama ini frekuensi bertemu ayah dan anak jarang dan jika misalnya ditelepon sama ayahnya cenderung menolak.. karena jauh dari ayahnya ini kecenderungan sama bundanya susah dipisahkan, apa2 harus sama bundanya… bagaimana kalau seperti gini? Mohon masukannya.
(bunda Yumi Fatimah)

..dan adakah efeknya jika sedari kecil anak sering jauh dari ayahnya?
(ayah Maftuh Fuadi)

JAWAB :
Ayah dan bunda, kedekatan anak pada orangtuanya ditentukan oleh banyak faktor, salah satunya adalah frekuensi pertemuan dengan keduanya. Anak-anak kita bukan saja butuh pertemuan yang berkualitas tapi juga kuantitas.

Kehadiran ayah sama pentingnya dengan bundanya. Banyak penelitian di AS yang menunjukkan pentingnya peran ayah dalam pendidikan anak. Banyak juga penelitian di AS yang menunjukkan dampak negatif FATHERLESS. Misalnya, anak perempuan yang tumbuh dlm kondisi FATHERLESS maka 2x beresiko alami hamil pra-nikah dibandingkan mereka yang ayahnya terlibat dalam pengasuhan.

Untuk para ayah, saatnya kita ubah mindset kita bahwa mengasuh anak bukan urusan istri semata, tapi juga peran para ayah.

Bila ayah ikut terlibat, maka anak akan mau ikut dan diasuh oleh ayah atau bundanya, tidak akan menempel terus pada bundanya.

TANYA :
Jika memang kuantitas masih terbatas, bagaimana mengoptimalkan kualitas ustadz.. secara praktikal, apa yang bisa diusahakan…? Sebagian ayah disini masih “terkendala” tempat/waktu kerja yang kurang memungkinkan frekuensi bertemu fisik secara lebih sering…
(ayah Fajar M. Gumanti)

JAWAB :
Hmm, ayah Fajar, ini memang dilema bagi banyak lelaki. Ada berbagai kasus yang berbeda kondisinya.

Intinya begini; para ayah sudah saatnya ‘turun gunung’ ikut mengasuh dan bermain bersama anak ketika kesempatan itu datang. Misal, saat pulang kerja di malam hari dan buah hati belum tertidur, sempatkan sejenak bercengkrama dengan mereka. Jadikan hari libur untuk sejenak bermain dan menanamkan nilai hidup pada mereka. Tapi hati-hati jangan terjebak pada sikap MEMANJAKAN anak.

Ada beberapa hal yang tanpa sadari itu memanjakan anak sebagai bentuk ‘kompensasi’ rasa bersalah karena kurangnya waktu bersama anak. Misal; anak merengek minta mainan segera dibelikan padahal mainan yang lama masih bagus dan sama fungsinya.

TANYA :
Bagaimana membagi peran yang baik dan benar antara Ayah dan Ibu dalam mendidik anak..?
(ayah Fajar M. Gumanti)

JAWAB :
Pembagian peran dan tugas, serta perbedaan pandangan yuk kita kembalikan pada dien Allah ini.

Yang sudah jelas kewajiban mencari nafkah jatuh pada ayah, lalu peran istri adalah sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Tapi dalam soal pendidikan anak, keduanya harus terlibat.

Silakan kita simak al-Quran, ternyata dialog ayah dan anak jauh lebih banyak ketimbang dialog ibu dan anak. Kalau saya tidak keliru dari 17 ayat pendidikan anak, 14 ayat membahas dialog ayah dan anak seperti dalam surat Luqman.

TANYA :
Kapan waktu/umur idealnya anak bisa ditinggal bekerja kedua ortunya? Misal saat SMP anak sudah mandiri dan sudah lebih banyak waktu main sama temannya..

JAWAB :
Wah disini ada bunda yang bekerja ya?
Ini agak pelik ya.

Karena masa kanak2 itu benar-benar saat berharga ia mendapatkan pendidikan dan kasih sayang dari ayah bunda, khususnya dari para bunda.

Ya, karena pada diri anak yg masih dominan adalah instingnya atau naluri, bukan fungsi akalnya.

Maka ia belum bisa sepenuhnya paham kenapa bundanya harus berangkat pagi pulang malam? Kenapa bundanya tidak seperti bunda kawan2nya yang bisa mengantar mereka pergi sekolah?

TANYA :
Apakah wajar ustadz, misalnya seorang anak cenderung memiliki kedekatan yg terlalu pada salah satu orangtuanya.. Misal, apa-apa harus dengan Bunda atau apa-apa maunya dengan Ayah…

Sampai usia anak berapa, kecenderungan terlalu dekat dgn salah satu ortu itu masih bisa ditolerir…??

Atau, memang harus dilatih untuk tidak seperti itu sedari dini…??
(by rame-rame…)

JAWAB :
Soal anak yang sulit lepas dari bundanya misalnya, mohon maaf harus dilacak akar penyebabnya. Bagaimana selama ini pola asuh ayah dan relasi dengan anak-anaknya? Mau tidak ayah terlibat dalam pengasuhan anak semisal memandikan anak, memakaikan baju mereka, dsb. Begitupun sebaliknya (ed.)

TANYA :
Ayah Iwan, mohon maaf…
Bagaimana jikalau kondisi memang ayah dan ibu keduanya harus bekerja.
Pilihan manakah yg lebih baik : dititip ke saudara atau daycare.
#fakta keluarga muda saat ini

JAWAB :
Bunda yg bertanya tadi, ini sama2 pilihan sulit ya bunda. Karena keduanya bukan pilihan ideal.

Mhn maaf bila saya agak ‘keras’ dlm hal ini.
Ayah bunda, semestinya saat kita memilih untuk memiliki anak maka sudah seharusnya kita pun persiapkan diri, mental, tenaga, waktu dan juga harta untuk anak2 kita.

Lalu coba kita pahami bahwa anak kita adalah manusia lemah yang akalnya belum smpurna. Ia begitu lemah dan Allah amanahkan ia pada kita, ayah-bundanya. Mengapa pada kita? Karena kita yang menjadi orangtua biologisnya. Pada mereka darah dan gen kita mengalir.

Coba sekarang kita yang ambil posisi sebagai anak; kedua orang tua kita pergi lalu kita tinggal dalam lingkungan yang bukan rumah kita. Andai kita jatuh atau sakit, siapa yang kita panggil pertama kali? Pasti ibu dan ayah kita, kan? Sedihkah kita? Pasti. Begitupula perasaan anak kita saat kedua orang tuanya pergi bekerja tinggalkan ia.

TANYA :
Langkah praktis menjadi orangtua yang terbaik itu seperti apa..?
Atau.. tidak ada langkah praktis..?
Artinya.. proses belajar-praktek-belajar-praktek tanpa berhenti…
(ayah Hadi Azis)

JAWAB :
Saya mengajak diri saya pribadi dan ayah-bunda sekalian untuk kembali introspeksi peran sebagai ayahbunda; benarkah kita ayah-bunda mereka ataukah kita hanya ‘pabrik anak’?

Maka, teruslah belajar dan belajar menjadi ayahbunda terbaik di hadapan Allah, dan cintai anak2 kita karena Allah..

-END-

BAGIKAN

LEAVE A REPLY