Mengenal Home Education bersama Ust. Harry Santosa

2718

Oleh: Iis Rahmawati.

Home education, dua kata ini baru beberapa bulan ini saja singgah dikepala saya. Awalnya saya kira hanya punya arti sebatas bagaimana mendidik anak dirumah melalui beragam game terdesain sesuai perkembangan umur anak. Hingga akhirnya saya bertemu dengan grup komunitas yang secara khusus membahas tentang home education.

Setelah melewati tahap diskusi pertama, saya baru ngeh kalau ternyata home education punya arti dan tujuan lebih mendalam dari yang saya bayangkan sebelumnya. Game terdesain yang saya bayangkan tadi hanyalah salah satu cara saja untuk membangkitkan potensi anak dengan cara yang asik. Definisi home education sendiri adalah pendidikan berbasis rumah yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak sejak dari dalam kandungan hingga lahir dan sesuai dengan tahap perkembangan dan fitrah sang anak.

Home education ini sebenarnya bukanlah hal baru dan luar biasa. Karena memang sudah seharusnyalah setiap orangtua yang diamanahi keturunan untuk mendidik anak-anaknya dengan sebaik-baiknya. Namun, ia menjadi menarik kini ditengah memudarnya peran orangtua dalam mendidik anak secara langsung dan banyaknya dampak negatif yang ditimbulkan oleh minimnya peran orangtua tersebut.

Home education bukan memindahkan sekolah ke rumah dan tidak sama dengan home schooling. Home schooling adalah pengajaran yang dilakukan di rumah dimana orangtua dan anak dapat bersepakat tentang apa yang dipelajari dan bagaimana kurikulumnya. Sedangkan dalam home education orang tua memiliki peran untuk membangkitkan fitrah anak sesuai tahap perkembangan usianya hingga tercapainya tujuan agar sang anak menjadi bagian dari peradaban dengan semulia-mulianya akhlak. jadi, home education seharusnya dilakukan oleh setiap orangtua.

Setiap anak terlahir sudah membawa fitrahnya. Setidaknya ada empat potensi fitrah yang sudah dimiliki anak sejak dilahirkan. Yaitu pertama, potensi FITRAH KEIMANAN, maksudnya saat di alam ruh setiap manusia sudah bersaksi tentang keEsaan Alloh SWT. Oleh karena itu, ketika seorang anak lahir dan bertumbuh maka ia butuh untuk dikenalkan kepada Alloh SWT Yang Maha Menciptakan. Kedua, potensi FITRAH BELAJAR, maksudnya setiap bayi adalah seorang pembelajar tangguh yang sejati. Kita pasti sering melihat seorang bayi yang harus mengalami jatuh bangun ketika belajar atau melakukan hal baru namun itu tidak membuatnya menyerah. Ketiga, potensi FITRAH BAKAT, maksudnya setiap anak itu unik yang nantinya keunikannya itu akan menjadikannya memiliki peran spesifik di muka bumi. Keempat, potensi FITRAH PERKEMBANGAN, maksudnya setiap bayi sampai aqil baligh akan melewati tahap-tahap perkembangan yang harus diikuti. Dalam hal ini tidak berlaku kaidah lebih cepat lebih baik.

Keempat potensi fitrah ini haruslah padu dan seimbang. Karena jika kurang salah satu maka hasilnya akan kurang baik. Misalnya:

  1. Bakat oke tapi minus iman —->> talented professional yang berakhlak buruk
  2. Iman oke tapi minus bakat (tidak mengembangkan bakat) —->> orang yang paham agama tapi minim manfaat
  3. Pembelajar yang oke tapi minus iman —->> scientist dan innovator yang dapat menimbulkan kerusakan
  4. Iman oke tapi tidak suka belajar —->> agamis yang tidak kreatif
  5. Bakat oke tapi tidak suka belajar —‘>> orang berbakat yang tidak innovatif,bakat hanya berhenti sampai hobi.
  6. Pembelajar yang oke tapi minus bakat —->> pembelajar yang tidak sesuai atau tidak menemukan jati diri.

Ketiga fitrah individu (keimanan,bakat dan pembelajar) yang tumbuh tanpa memperhatikan fitrah perkembangan akan menghasilkan individu-individu yang tidak matang atau manusia-manusia yang aqil tapi tidak baligh. Sedangkan bila keempat fitrah tersebut tumbuh secara bersamaan maka akan menghasilkan generasi yang inovatif, produktif dan berakhlak mulia.

Sumber: Ust. Harry Santosa | Grup HE BPA DKI 1& Banten |14 Januari 2015 21:45 WIB

Foto: www.islamiclife.com

BAGIKAN

LEAVE A REPLY