Hud-Hud dan Peta Dakwah

28

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie (Direktur Dompet Dhuafa Pendidikan, Founder Sahabat Remaja)

Sedari dulu saya menyukai peta, sebagaimana menyukai hujan. Banyak inspirasi dan pelajaran yang saya dapatkan dari hujan. Namun, lain waktu saja saya cerita tentang jatuh cinta saya pada hujan. Kali ini saya ingin cerita tentang jatuh cinta saya pada peta. Ini berawal dari kecemburuan saya pada Hud-Hud. Hingga sekarang saya sangat cemburu kepada Hud-Hud. Karena, belum bisa melakukan seperti apa yang dilakukan Hud-Hud.

Hud-Hud, demikian nama burung istimewa ini. Namanya diabadikan dalam Al-Qur’an surat An-Naml. Dan, karya dakwahnya dikisahkan dalam Al-Qur’an. Setiap kali kita membaca kisahnya dalam Al-Qur’an, maka setiap hurufnya diganjar dengan sepuluh kebaikan. Ah, bagaimana kita tidak mengogoi cemburu pada Hud-Hud.

Mengapa Hud-Hud istimewa? Ini karena karya dakwahnya. Suatu ketika, Hud-Hud terbang melintasi angkasa sekira 1.500 mil jauhnya dari langit Kan’an (Palestina) menuju langit Saba (Yaman). Hud-Hud mendapati sebuah negeri makmur nan sejahtera, negeri Saba namanya. Negeri itu dipimpin oleh Maharani Ratu nan bijaksana, Balqis namanya. Namun, sayang beribu sayang, ratu dan seluruh rakyatnya tidak mengenal Allah. Mereka menyembah matahari.

Di sinilah Hud-Hud terenyuh. Hud-Hud gundah gelisah mendapati kenyataan itu. Hud-Hud sangat ingin mendakwahi ratu dan rakyat Saba. Hud-Hud ingin mengenalkan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang hak disembah. Tiada sekutu bagi-Nya. Namun, Hud-Hud bingung bagaimana caranya. Mereka tidak mengerti bahasanya. Maka, tiada pilihan selain terbang kembali ke Kan’an sejauh 1.500 mil untuk melapor kepada tuannya.

Setibanya, Hud-Hud segera melapor kepada tuannya, Nabi sekaligus Raja Sulaiman ‘Alaihissalam. Dengan penuh semangat Hud-Hud bercerita, “Sungguh, aku dapati ada seorang perempuan yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta memiliki singgasana yang besar. Aku (Hud-Hud) dapati dia dan kaumnya menyembah matahari, bukan kepada Allah; dan setan telah menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan (buruk) mereka, sehingga menghalangi mereka dari jalan (Allah), maka mereka tidak mendapat petunjuk.” (QS. An-Naml [27]: 23 – 24).

Kemudian, Nabi Sulaiman menugaskan Hud-Hud untuk mengirimkan surat dakwah kepada Ratu Saba tersebut. Burung kecil ini kembali terbang melintasi angkasa sejauh 1.500 mil. Setibanya, Hud-Hud masuk menyelinap hingga ke kamar sang ratu. Lalu, melemparkan surat dakwah Nabi Sulaiman kepada sang Ratu Saba. Hud-Hud tidak lekas beranjak pergi sampai memastikan surat tersebut dibaca oleh Ratu Balqis. Genap 6.000 mil perjalanan Hud-Hud, si burung mungil berjambul, melintasi angkasa untuk sebuah misi dakwah.

Kini, kita bertanya sudah sejauh manakah kita terbang untuk sebuah misi dakwah? Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus bukan hanya untuk satu umat, melainkan untuk semua umat di alam ini. Maka, tugas kitalah, umatnya, untuk meneruskan dakwah beliau. Menyampaikan risalah Islam ini ke segenap penjuru bumi. Menapaki setiap sudut bumi dan menyambangi penduduknya. Menyinari hati manusia yang gulita dengan hidayah Islam nan terang benderang.

Karena itu, dari nusantara ini, terbanglah ke utara bumi. Kau akan dapati nyaris 2 miliar manusia penduduknya tidak mengenal Tuhan. Sebagiannya lagi menganut kepercayaan menyembah matahari terbit. Dari sana terbanglah kau melintasi samudra terluas bumi, Pasifik, kau akan temukan manusia-manusia yang mengaku pengikut Isa ‘Alaihissalam, namun telah menyimpang jauh dari ajarannya hingga menuhankan Isa ‘Alaihissalam. Lanjutkan perjalananmu ke benua biru, rentetan negara makmur namun kufur di Eropa Barat sampai negara-negara bekas komunis di Eropa Timur.

Adakah kita telah terbang melintasi semesta sebagaimana Hud-Hud untuk sebuah misi dakwah? Inilah yang membuat saya sangat cemburu kepada Hud-Hud. Dan, dari sinilah saya jatuh cinta kepada peta. Menatap peta membuat imajinasi saya melanglang buana melintasi ruang dan waktu. Melampaui sekat batas negara. Tertancap sebuah tekad membara dalam dada, “Saya akan jelajahi bumi ini di setiap sudutnya untuk sebuah misi dakwah.”

Berawal dari kecemburuan kepada Hud-Hud-lah, sebuah mimpi mendirikan 100 Islamic School di 100 kota di 5 benua bersemai dan berbunga dalam hati. Berawal dari kecemburuan kepada Hud-Hud-lah, misi ini pun saya wariskan kepada anak lelakiku, Shifr Muhammad Mumtaz Asy-Syafi’i, yang berumur 4 tahun, “Abang, nanti besar jadi ulama pembebas Roma ya. Dari Roma, Abang dakwahi seantero Eropa sampai Amerika.”

Maka, sekali lagi kita bertanya, adakah kita cemburu kepada Hud-Hud?

 

VIAsahabatremaja.id
BAGIKAN