Hidup untuk Makan, Atau Makan untuk Hidup?

53

Saat kecil dulu, memperhatikan tingkah laku ayam ternak, saya heran mengapa hewan ini kerjanya hanya makan seharian. Keluar dari kandang di pagi hari, kaki mereka mulai mengais-ngais tanah lalu mematuk makanannya. Terus begitu hingga mereka dimasukkan kembali ke kandang jelang malam.

Tak ada kewajiban harus bersekolah seperti saya. Atau kewajiban mengaji di pondok. Atau bermain sepakbola di lapangan bersama teman-temannya. Aktivitas mereka hanyalah makan dan makan.

Ketika saya beranjak dewasa dengan semangat muda dan tampang yang masih baby face, saya temukan sebuah ayat Al-Qur’an yang mengingatkan kembali kepada keheranan saya semasa kecil. Pada surat Muhammad ayat 12.

“…Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang…”

Allah swt menyamakan gaya konsumtif orang kafir dengan hewan ternak. Seperti ayam, kambing, sapi, dan hewan ternak lain yang mengisi sepanjang harinya dari pagi hingga dimasukkan kembali ke kandang dengan mengisi perutnya.

Sebenarnya hidup itu untuk makan, atau makan untuk hidup? Bagi seorang muslim, makan itu untuk bertahan hidup. Sedangkan hidupnya ia orientasikan untuk menyembah Allah swt.

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS Adz Dzariyat: 56)

Aktifitas makan bagi seorang muslim pada akhirnya menjadi bernilai ibadah ketika ia niatkan agar badannya kuat untuk mengingat Allah swt. Pun dengan aktifitas kerja mencari nafkah, juga bernilai ibadah karena bekerja itu merupakan perintah Rasulullah saw.

Kebalikannya dengan orang kafir, mereka menjadikan hidupnya untuk makan. Waktu yang dilaluinya hanyalah untuk bersenang-senang dengan nikmat yang Allah berikan, dan bekerja agar bisa mendapatkan uang untuk berfoya-foya.

Maka pas lah seperti apa yang disindir Allah swt. Bahwa mereka hanya tahu bersenang-senang dalam hidupnya dan makan seperti makannya binatang yang luput dari orientasi ibadah kepada Allah swt, lalai untuk bersyukur kepada yang memberi makan, lengah untuk menyebut nama Allah ketika hendak menikmati santapan, dan alpa mengikuti sunnah Rasulullah saw saat menyantap hidangan.

Hingga ketika hari akhir tiba, ia ditempatkan pada Neraka Jahannam. “…Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (Muhammad: 12)

Semoga menjadi pengingat bagi saya dan Anda, apakah sudah meluruskan orientasi semua aktifitas dalam hidup untuk beribadah kepada Allah swt, termasuk dalam aktifitas makan.

Zico Alviandri

BAGIKAN