Belajar dari Ramadhan

66

Oleh: Nurul Aeni

Creative PSB Makmal Pendidikan dan Pembina Komunitas Media Pembelajaran (KOMED)

Menjadi insan dewasa dengan berbagai rutinitas serta tugas–tugas lain membutuhkan pengaturan waktu yang efektif untuk menyelesaikan semua itu dengan baik, berbagai cara dilakukan mulai dari membuat checklist, pengaturan alarm, prioritas pekerjaan dan lain sebagainya. Dalam praktisnya kita menemukan banyak kendala, terkadang dalam satu hari kita menemukan berbagai lis pekerjaan yang tidak dapat diselesaikan dengan baik, bahkan tidak keburu disentuh sekalipun.

Bicara waktu selalu berakhir dilematis, menjadi dirasa terlalu cepat berlalu namun kadang sebaliknya. Tergantung kondisi saat kita memaknai waktu tersebut, seorang anonim mengatakan “tak ada waktu yang tidak tepat untuk melakukan sesuatu yang benar”, ketepatan waktu adalah bagaimana kita mengaturnya menjadi sesuatu yang benar.

Setiap bulan, minggu, hari dan jam berlalu,  semua menjadi tepat menurut ukuran masing–masing individu. Di antara bulan–bulan tersebut ada yang paling spesial untuk kita maknai, yaitu bulan Ramadhan menurut kalender hijriah, ialah merupakan bulan berkah yang ditunggu milyaran umat muslim, di bulan ini semua orang suka cita merayakannya dengan berbagai ibadah yang dilipatgandakan pelaksanaan juga pahalanya.

Di antara tujuan utama puasa di bulan ramadhan ialah menahan hawa nafsu untuk makan, minum dan melakukan perbuatan yang sia-sia dan dosa. Ini sangat penting untuk kita garis bawahi, waktu di Ramadhan semacam mutiara berharga yang harus dijaga, bahkan sampai pada kegiatan yang dilakukan sebisa mungkin harus manfaat dan jauh dari maksiat, menjadi ruang untuk kita insan dewasa memanfaatkan hal tersebut untuk melatih manajemen waktu, sehingga di bulan–bulan berikutnya kita selalu melakukan sesuatu yang benar di saat yang tepat.

Ada 3 hal yang membuat bulan Ramadan ini menjadi penting sebagai momentum pembelajaran manajemen waktu. Pertama, di bulan ini secara otomatis kita mengurangi kegiatan untuk makan dan minum di siang hari, selain beribadah semisal shalat wajib, salat sunah dan tadarus waktu–waktu inilah yang dapat kita maksimalkan untuk melakukan kegiatan–kegiatan bermanfaat lainnya. Kedua, selama bulan ini kita seharusnya  bangun lebih pagi dan tidur lebih cepat sehingga mempersiapkan tubuh menjadi lebih sehat di samping manfaat berpuasa itu sendiri. Ketiga, di bulan ini perasaan dan pikiran kita dikondisikan selalu tenang dan nyaman, menjadi waktu yang baik untuk memunculkan inovasi–inovasi  dan melakukan pekerjaan lainnya dengan tepat dan benar.

Lalu kegiatan apa saja yang bisa dikatakan tepat? Tentu masing–masing individu memiliki ragam lis yang berbeda. Namun berikut ini tips kegiatan yang mungkin bisa dilakukan oleh kita:

  1. Melakukan amalan wajib dengan benar dan tepat,
  2. Memperbanyak amalan–amalan sunah,
  3. Mengalihkan aktivitas lisan (berbicara terlalu banyak) menjadi bahasa tulisan yang bermanfaat,
  4. Memanfaatkan momentum memasak untuk berbuka dan shaum sebagai sarana melatih kemampuan memasak (terutama untuk ibu rumah tangga),
  5. Rajin melis aktivitas Ramadan, biasanya untuk hal ini bahkan ada bukunya sendiri.
  6. Membuat daftar ide inovasi yang akan kita kembangkan, waktu pagi sangat cocok untuk hal ini,
  7. Melis tugas–tugas yang belum selesai di bulan–bulan sebelumnya, agar diselesaikan di bulan Ramadan ini, dan banyak lagi alternatif kegiatan–kegiatan lainnya.

Tiga puluh hari lamanya seharusnya menjadi waktu yang cukup untuk belajar dari bulan Ramadan, pembiasaan–pembiasaan kita di bulan suci ini  menjadi pupuk untuk menumbuhkan kebiasaan–kebiasaan baik dari bulan selanjutnya, implementasinya dikembalikan lagi ke individu masing–masing, apakah bisa menjadi konsisten atau tidak, bagaimana kita putusakan hal tersebut secara bijak.

Waktu adalah majikan yang mempunyai peluang yang sama. Semua orang mempunyai jumlah jam dan menit yang sama dalam sehari. Orang kaya tak bisa membeli jam lebih banyak. Ilmuwan tak bisa menciptakan menit-menit baru. Dan Anda tak bisa menyimpan jam untuk di – Denis Waitley

SUMBERmakmalpendidikan.net
BAGIKAN

LEAVE A REPLY