Bagaimana Cara Guru Mengoreksi Kesalahan Muridnya (Bagian 1)

176

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie, (Direktur Dompet Dhuafa Pendidikan, Founder Sahabat Remaja Indonesia).

Mengapa seorang guru selain mesti menguasai bidang keilmuannya, yang lebih penting lagi ia juga mesti memiliki adab sebagai guru? Karena, gurulah garda terdepan dalam proses pendidikan dan pembentukkan adab muridnya. Salah satu hal penting dalam proses pendidikan adalah bagaimana guru menampilkan adab dalam mengoreksi kesalahan muridnya. Hal ini penting diperhatikan oleh para guru. Karena, tujuan mengoreksi adalah munculnya perubahan sikap seorang murid menjadi lebih baik. Bukan mempermalukan murid di depan teman-temannya.

Dalam hal ini, marilah kita belajar dari uswah hasanah kita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengoreksi kesalahan sahabatnya. Indah sekali.

Imam Al-Hakim, dalam kitabnya Al-Mustadrak, meriwayatkan, satu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama muslimin melakukan perjalanan. Singgahlah disebuah tempat, Marru Zhahran namanya, antara Mekah dan Madinah.

Seorang sahabat, Khawad namanya, tak sengaja melihat sekelompok gadis tengah berlalu. Khawad yang masih lajang ini menghampiri gadis-gadis itu dan menyapanya ramah. Pada saat yang sama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama rombongan hendak melanjutkan perjalanan. Menyadari Khawad tak ada dalam rombongan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencarinya. Rupanya Khawad sedang berbincang dengan gadis-gadis itu.

“Khawad, sedang apa kau di sini?” tanya Baginda Rasul.

Khawad gelagapan… “Ehhmm saya sedang mencari unta saya yang hilang ya, Rasulullah,” jawab Khawad berusaha menyelamatkan muka di depan Baginda Rasul.

Baginda Rasul tahu Khawad berdusta. Namun, alangkah mulianya akhlak beliau. Baginda Rasul tidak mencecar Khawad, apalagi memarahinya di depan gadis-gadis itu yang bisa menyebabkan harga dirinya runtuh, atau menjustifikasinya sebagai pendusta.

Apa yang dilakukan Baginda Rasul? Beliau tersenyum dan berkata, “Ayo, kita lanjutkan perjalanan. Kita cari untamu sambil berjalan.”

Baginda Rasul bersama muslimin melanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan, Baginda Rasul berulang kali menanyakan kepada Khawad perihal untanya yang hilang. Apakah sudah ketemu. Jelas saja, Khawad menjadi bingung mau menjawab apa. Khawad merasa bersalah membohongi Rasulullah.

Sesampainya di Madinah, Khawad segera menuju Masjid Nabawi dan shalat sunnah dua rakaat. Dalam hatinya, dia berjanji untuk berterus terang kepada Rasulullah. Baginda Rasul tahu Khawad sudah mulai sadar. Inilah waktu yang tepat untuk menasihatinya. Mengoreksi kesalahannya.

Maka, Baginda Rasul masuk ke Masjid Nabawi. Hanya ada beliau dan Khawad. Tak ada yang lain. Di situlah Khawad menangis dan meminta maaf kepada Rasulullah. Apa respon Baginda Rasul? Memarahinya? Menghukumnya?

“Rahimakallah, rahimakallah, rahimakallah,” ucap Baginda Rasul.

(Semoga Allah merahmatimu, semoga Allah merahmatimu, semoga Allah merahmatimu).

Indah nian akhlak Baginda Rasulullah, junjungan kita tercinta. Poin-poin penting sebagai pelajaran:

  1. Saat Rasulullah tahu Khawad berdusta, beliau tidak langsung mencecar apalagi menjatuhkan harga dirinya di depan umum (gadis-gadis itu). Karena, Rasulullah tahu Khawad tidak sepenuh hati ingin berdusta.
  2. Rasulullah menunggu waktu yang tepat untuk menasihati dan memperbaiki (Di Masjid Nabawi dalam kondisi Khawad sudah merasa bersalah) dan tak ada siapapun.
  3. Dan, ketika Khawad mengakui kesalahan dan meminta maaf, Rasulullah tidak memperpanjang urusan. Beliau memaafkan dan bahkan mendoakannya. Pun, tidak menceritakan kepada para sahabat lain.

Inilah adab bagaimana seorang guru mengoreksi kesalahan muridnya. Rasulullah adalah guru terbaik bagi para sahabatnya. Maka, pantas jika generasi sahabat menjadi generasi terbaik sepanjang masa.

Maka, kita bertanya, adakah para guru di sekolah dan madrasah menampilkan adab saat mengoreksi kesalahan murid-muridnya?

SUMBERsahabatremaja.id
BAGIKAN