Antara Kehilangan Cinta dan Kesadaran

37

Oleh: Arsal Sjah. 

Kemampuan kita menjalankan perintah sangat ditentukan oleh seberapa besar pertolongan Allah pada kita saat melakukannya.

Seberapa besar Pertolongan Allah akan sangat ditentukan oleh seberapa baik dan sering kita memohon pertolongan pada-Nya disaat melakukan perintah-Nya.

Permohonan hanya akan dilakukan oleh siapapun yang selalu ingat padaNya.

Dan ingat itu adalah selubung cinta.
Dan cinta berbuah iman.

Tanpa iman manusia mungkin meninggalkan keburukan, kebathilan dan kemudhorotan.

Tapi tanpa iman, mustahil manusia melaksanakan perintah sebagai bentuk ketundukan dan bukti cintanya.

Cinta itu bukti bukan janji.
Maka siapa yang tak punya cinta takkan mampu memberi bukti cinta pada yang dicintainya.

Cinta itu memenuhi.
Maka siapa yang tak punya cinta takkan bisa memenuhi keinginan yang dicintainya.

Ibnu Qoyyim al Jauziyah pernah mengatakan: “Meninggalkan perintah lebih berat konsekuensinya di hadapan Allah dari pada melakukan larangan.”

Meninggalkan perintah adalah dosa, sebagaimana melakukan larangan juga merupakan dosa.

Namun meninggalkan perintah mempunyai akibat yang lebih besar daripada melakukan larangan.

Meninggalkan perintah disebabkan hilangnya cinta dari diri seorang hamba pada Allah.

Melakukan larangan terjadi karena hilangnya kesadaran dari diri seseorang yang disebabkan berkuasanya hawa nafsu atas jiwa.

Kehilangan cinta pada Allah lebih berbahaya dari pada hilangnya kesadaran.

Hilangnya cinta menyebabkan seseorang tak memiliki hasrat bertemu dengan Allah, sementara hilangnya kesadaran hanya membuat manusia melakukan sesuatu yang terlarang karena khilaf.

Hilangnya kesadaran terobati dengan teguran dan kejutan, tapi hilangnya cinta tak kembali walau diimingi berjuta hadiah dan kebaikan.

Begitulah yang dilakukan iblis pada Adam as. Iblis menutupi kesadaran Adam as atas larangan Allah tanpa menghilangkan cinta Adam as pada Tuhannya.

Bahkan iblis menutupi kesadaran Adam as atas larangan Allah dengan halusinasi cinta yang dibuatnya.

Begitulah yang Allah narasikan dalam ayat-Nya yang mulia,

فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِن سَوْآتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَٰذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَن تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ

Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)”.

وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ

Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua”,
[Al A’raf: 20-21]

Meninggalkan maksiyat dan dosa hanya menghindarkan kita dari keburukan tanpa ada nilai kebaikan yang menjadi kelebihan.
Jika Adam as tak melakukan apa yang dilarang atasnya, maka dia akan tetap di surga; tak ada yang berubah; tak lebih dan tak kurang.

Tapi ketaatan melaksanakan perintah menjadi penghapus dosa dan pembersih jiwa, sekaligus menjadi ukuran kebaikan seseorang.

Sebagaimana firman-Nya yang suci,

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
[Ali ‘Imran: 31]

تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.

يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.
[Ash Shaff: 11-12]

Ya Allah, aku mencintaimu.
Maka berikan aku cinta-Mu
Dan cinta orang-orang yang mencintai-Mu.
Tunjukkan aku, Yaa Allah, pada apapun yang akan mengantarkanku pada cinta-Mu.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY